Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menduga insiden kecelakaan antara KRL dan taksi listrik Green SM di jalur kereta sekitar Stasiun Bekasi Timur dipicu oleh kesalahan manusia atau human error.

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengungkapkan bahwa sopir kendaraan listrik tersebut kurang mendapatkan edukasi mendalam mengenai aspek teknis mobil yang dikemudikannya.

>>> Porsche Tunda Mobil Listrik 911, Fokus pada 718 dan Hibrida

Hal itu disampaikan dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI pada Kamis (21/5/2026).

Temuan Awal KNKT

Menurut Soerjanto, pengenalan armada taksi listrik hanya dilakukan melalui kelas teori berdurasi singkat.

"Pelatihan mencakup cara menghidupkan mobil, cara parkir, lampu indikator, knop transmisi, serta penggunaan sabuk pengaman. Knop lampu indikator pada saat siang hari susah dilihat," ujarnya.

KNKT baru mempublikasikan poin-poin temuan awal dari hasil investigasi di lapangan. Penyebab resmi kecelakaan yang terjadi pada Selasa (28/4/2026) itu belum dirilis sepenuhnya.

Respons Manajemen Green SM

Menanggapi temuan awal tersebut, manajemen Green SM menyatakan komitmennya untuk bersikap kooperatif.

>>> BYD Pamerkan SUV PHEV Denza B8 di Jakarta, Siap Dieksplorasi ke Indonesia

"Keselamatan penumpang dan pengemudi selalu menjadi prioritas utama Green SM.

Semua pengemudi diwajibkan menjalani pelatihan wajib sejak awal masa kerja mereka," ujar Deny Tjia, Managing Director of Green SM Indonesia.

Pelatihan tersebut mencakup keterampilan mengemudi yang aman, prosedur pengoperasian kendaraan, dan standar layanan pelanggan.

Deny menegaskan bahwa perusahaan terus mendampingi proses penyelidikan yang sedang berjalan demi memastikan pemenuhan seluruh regulasi keselamatan kerja.

>>> Gudang Showroom BYD di BSD Kebakaran, Mobil Dievakuasi

"Sepanjang masa kerja mereka, pengemudi juga menerima pelatihan, pengawasan, dan pengingat secara berkala untuk memastikan kepatuhan terhadap standar keselamatan perusahaan," kata Deny.