China mencatat sejarah baru dalam eksplorasi antariksa dengan berhasil mendaratkan roket reusable di platform lepas pantai.

Roket Long March 10B buatan China Academy of Launch Vehicle Technology (CALT) itu ditangkap oleh platform pemulihan di laut.

>>> 6 Drama China Juli 2026: Romansa hingga Intrik Istana

Keberhasilan ini menjadikan China negara kedua setelah Amerika Serikat yang mampu melakukan pendaratan roket semacam itu.

Roket tersebut memiliki kapasitas muatan 16 ton ke orbit rendah Bumi, mendekati kemampuan Falcon 9 milik SpaceX yang mencapai 22 ton.

Berbeda dengan Falcon 9 yang mendarat dengan kaki pendarat, CALT menggunakan sistem kait untuk menangkap roket yang turun.

CALT menargetkan roket ini sebagai platform untuk meluncurkan satelit internet broadband mirip Starlink dan satelit komersial besar lainnya.

>>> Tulis Surat Perpisahan Usai Tinggalkan SM Entertainment, Winwin Eks NCT Janjikan Ini

Dengan menggunakan kembali tahap pertama, biaya peluncuran diharapkan bisa ditekan secara signifikan, seperti yang dilakukan SpaceX.

SpaceX pertama kali sukses mendaratkan Falcon 9 setelah penerbangan orbital pada Desember 2015.

Blue Origin milik Jeff Bezos menjadi perusahaan kedua yang melakukannya pada November lalu dengan New Glenn.

Meski demikian, China masih harus bekerja keras untuk mengejar frekuensi peluncuran SpaceX yang luar biasa.

>>> Harga Super Pocket Naik Akibat Lonjakan Permintaan Komponen AI

Pada 2025, SpaceX hampir meluncurkan roket setiap dua hari sekali dengan total 165 misi orbital, hampir dua kali lipat seluruh program antariksa China.