CEO SpaceX Elon Musk kembali melontarkan pernyataan ambisius.

Melalui cuitan terbarunya, ia mengklaim bahwa SpaceX akan bernilai lebih dari seluruh perekonomian Bumi jika semua target perusahaan tercapai.

>>> Pemilik Apartemen Berkreasi di Tengah Dominasi Hunian 'White Cube'

Pernyataan itu muncul sebagai tanggapan atas kekhawatiran salah satu pendukungnya. Pendukung tersebut mempertanyakan kesepakatan komputasi AI SpaceX dengan Anthropic yang dianggap memberikan terlalu banyak uang kepada pesaing.

Musk mendasarkan keyakinannya pada potensi energi matahari yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Ia merujuk pada skala Kardashev, metode yang mengukur kemajuan peradaban berdasarkan kemampuan mengelola energi.

Menurut Musk, industri berbasis luar angkasa bisa melampaui nilai seluruh Bumi.

Ia menyebut bahwa energi matahari yang bisa diakses di luar angkasa mencapai 100.000 kali lipat lebih besar daripada yang tersedia di Bumi.

Pada Januari lalu, Musk juga menyatakan bahwa "industri luar angkasa akan jauh melampaui nilai seluruh Bumi."

Ia menambahkan bahwa potensi energi matahari yang bisa dimanfaatkan hanya menggunakan kurang dari sepersejuta energi total matahari.

>>> Wali Kota Berlin Kai Wegner Mundur dari Pencalonan Kembali

Namun, klaim ini mendapat banyak skeptisisme. SpaceX sendiri mengalami kerugian besar tahun lalu, mencapai 5 miliar dolar AS.

Saham perusahaan yang sempat melonjak setelah IPO kini justru menurun.

Para kritikus menilai pernyataan Musk terlalu muluk dan tidak realistis. Mereka mengingatkan bahwa janji-janji serupa di masa lalu, seperti mobil otonom Tesla, belum sepenuhnya terwujud.

Selain itu, persaingan di sektor antariksa semakin ketat. Program luar angkasa China menunjukkan kemajuan pesat yang bisa mengancam dominasi SpaceX.

Musk sebelumnya juga mengklaim bahwa Tesla bernilai lebih dari seluruh industri otomotif karena otonomi. Ia juga menyebut robot Optimus akan meningkatkan GDP Bumi secara signifikan.

>>> Optimasi Kemampuan Penalaran Model OpenAI Versi 5.6 di Tahun 2026

Para pemimpin teknologi kerap menjual visi utopis tentang "era kelimpahan." Namun, realitas menunjukkan bahwa banyak janji tersebut belum terwujud.