Digital parenting menjadi tantangan baru bagi keluarga di era serba terkoneksi.

Kekhawatiran orang tua kini tidak hanya sebatas tayangan televisi atau lingkungan bermain, tetapi juga jejak digital, media sosial, dan budaya berbagi momen secara daring.

>>> Farhan Halim Ungkap Cara Tuntaskan Dendam Lawan Kamboja di SEA V Cup

Banyak orang tua mengunggah foto bayi, momen sekolah, hingga aktivitas sehari-hari sebagai bentuk kebanggaan. Padahal, setiap unggahan berpotensi menjadi jejak digital yang melekat pada anak hingga dewasa.

Psikolog dari Tabula Rasa, Arnold Lukito, mengatakan bekal terpenting orang tua saat ini bukan hanya literasi teknologi, tetapi juga literasi emosi atau kecerdasan emosional.

"Banyak orang tua fokus pada screen time, parental control, dan hal teknis lainnya.

Padahal, yang tidak kalah penting adalah bagaimana anak belajar mengenali emosi, membuat batasan, memahami persetujuan, serta menyadari bahwa dirinya berharga bukan karena dilihat banyak orang," ujarnya.

Empat Kemampuan Emosional yang Perlu Dimiliki Orang Tua

Menurut Arnold, digital parenting yang sehat dimulai dari kemampuan orang tua menerapkan kecerdasan emosional.

Ada empat kemampuan yang perlu dimiliki: self-awareness (kesadaran diri), self-regulation (pengendalian diri), social awareness (kepedulian sosial), dan relationship management (kemampuan membangun hubungan).

Kesadaran diri penting agar orang tua mampu mengevaluasi alasan di balik setiap unggahan tentang anak. "Apakah mengunggah konten anak benar-benar untuk berbagi kebahagiaan, atau sebenarnya sedang mencari validasi?"

ujar Arnold.

Kemampuan tersebut diikuti dengan pengendalian diri, yaitu menahan keinginan untuk langsung mengunggah foto atau video yang berkaitan dengan identitas dan kehidupan pribadi anak.

Orang tua juga harus menyadari bahwa anak adalah individu yang memiliki hak atas privasi, perasaan, dan batasannya sendiri.