Arnold menekankan bahwa seluruh proses akan lebih efektif jika dimulai dari teladan orang tua. Anak belajar perilaku digital melalui proses meniru, bukan dari nasihat.

"Sulit membesarkan anak yang sehat secara digital kalau orang tuanya sendiri gelisah, haus validasi, dan cenderung terlalu mengumbar kehidupan di media sosial," katanya.

Tindakan Preventif Sejak Bayi

Pembahasan keamanan digital kerap dikaitkan dengan usia anak memegang telepon pintar. Namun, Arnold mengatakan tindakan preventif bisa dimulai jauh sebelum itu, bahkan sejak bayi.

Langkah pertama adalah mengubah cara orang tua mendokumentasikan kehidupan anak.

Orang tua perlu membiasakan diri memeriksa ulang setiap foto atau video sebelum dibagikan, apakah memperlihatkan lokasi rumah, nama sekolah, wajah anak secara jelas, atau data pribadi lainnya.

Seiring bertambahnya usia, konsep keamanan digital bisa dikenalkan secara bertahap dengan bahasa sederhana.

>>> Prabowo Panggil Purbaya hingga Bahlil ke Istana Bahas Kopdes Merah Putih

"Anak usia dini bisa mulai diajarkan bahwa ini tubuh kamu, tidak semua foto harus dikirim, kalau tidak mau difoto boleh bilang tidak," ujar Arnold.

Ia juga mendorong orang tua membiasakan meminta izin ketika hendak memotret anak. "Mungkin terdengar aneh bertanya, 'Boleh Ayah foto?'

Padahal, kebiasaan ini menumbuhkan konsep diri pada anak bahwa pendapat dan persetujuannya diperhitungkan," katanya.

Ketika anak memasuki usia taman kanak-kanak hingga sekolah dasar, orang tua dapat mulai mengenalkan informasi pribadi seperti nama lengkap, alamat rumah, nama sekolah, foto berseragam, lokasi real time, hingga informasi kesehatan.

Pentingnya Digital Consent Sejak Dini

Di tengah maraknya orang tua membagikan kehidupan anak di media sosial, muncul istilah digital consent, yaitu hak anak untuk menentukan apakah identitas, foto, atau cerita tentang dirinya boleh dibagikan.