Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyetujui kesepakatan yang memungkinkan Arab Saudi melakukan pengayaan uranium untuk program nuklir sipil.

Kesepakatan tersebut diperkirakan akan diumumkan pada Rabu (22/7) dan berlaku selama 30 tahun dengan melibatkan perusahaan AS.

>>> Harga Minyak Dunia Melonjak 2 Persen ke US$96 Gara-gara Perang AS-Iran

Perjanjian ini kemudian akan ditinjau dan diratifikasi oleh Kongres AS agar menjadi undang-undang yang mengikat secara nasional. Namun, langkah ini diperkirakan mendapat pertentangan dari sejumlah anggota kongres.

Potensi Pengayaan Uranium Menuju Senjata Nuklir

Arab Saudi merupakan anggota Badan Energi Atom Internasional (IAEA) yang mempromosikan kerja sama nuklir damai dan melakukan inspeksi untuk mencegah program senjata atom rahasia.

Namun, sumber yang mengetahui isi perjanjian mengatakan kesepakatan itu tidak mencakup 'protokol tambahan' yang memungkinkan pemantauan dan inspeksi lebih intensif.

>>> Penjualan Anjlok 60%, Honda Justru Perpanjang Kerja Sama dengan GAC di China

Para ahli nonproliferasi memperingatkan bahwa sentrifugal yang digunakan untuk memperkaya uranium di Arab Saudi bisa membuka pintu bagi program senjata nuklir.

Meskipun pengayaan uranium bukan langkah otomatis menuju senjata nuklir, para pakar berpendapat hal itu bisa menjadi pintu masuk, mirip dengan kekhawatiran terhadap program nuklir Iran.

Di sisi lain, Arab Saudi dan Pakistan telah menandatangani pakta pertahanan bersama setelah Israel menyerang Qatar.

>>> Apakah Pajak Mobil Listrik Masih Murah? Ini 5 Rekomendasinya

Menteri Pertahanan Pakistan menyatakan program nuklir negaranya 'akan tersedia' untuk Saudi jika diperlukan, yang dianggap sebagai peringatan bagi Israel.