Seiring bertambahnya usia, massa otot cenderung menurun.

Kondisi ini dikenal sebagai sarkopenia, yang memengaruhi sekitar 25% orang di atas 70 tahun dan 40% di atas 80 tahun.

>>> Declutter Teknologi Besar-besaran: Berapa Banyak Sampah yang Sebenarnya Kita Beli?

Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa cara mengonsumsi protein dapat memperlambat proses tersebut. Kuncinya bukan hanya jumlah, tetapi juga distribusi protein sepanjang hari.

Mengapa Tubuh Membutuhkan Pasokan Protein Stabil

Otot bergantung pada protein makanan yang dipecah menjadi asam amino untuk membangun dan memperbaiki jaringan.

Tubuh manusia menggunakan sekitar 20 asam amino, tetapi tidak dapat memproduksi delapan di antaranya.

Asam amino esensial ini harus diperoleh dari sumber makanan seperti daging, ikan, telur, susu, kacang-kacangan, dan biji-bijian.

Jika asupan protein rendah, tubuh akan memecah jaringan otot untuk memenuhi kebutuhan metabolisme dasar.

National Academy of Medicine menetapkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) protein sekitar 0,36 gram per pon berat badan untuk orang dewasa.

Itu berarti sekitar 47 gram per hari untuk individu dengan berat 130 pon, atau 61 gram untuk yang berbobot 170 pon.

Namun, AKG tersebut merupakan kebutuhan minimum, bukan target optimal.

Institute of Medicine mencatat bahwa protein dapat menyumbang 10–35% dari total kalori harian, setara dengan 50–175 gram per hari pada diet 2.000 kalori.

>>> Samsung Galaxy Unpacked 2026: Z Fold 8 Ultra, Fold 8 Wide, dan Watch 9 Resmi Meluncur

Kebutuhan Protein Khusus untuk Lansia

Data survei diet federal yang dikutip dalam USDA Dietary Guidelines for Americans menunjukkan bahwa sekitar 50% wanita dan 30% pria di atas usia 71 tahun gagal memenuhi AKG protein dasar.