Kepala BPOM: Indonesia Masuk 10 Regulator Obat Terbaik Dunia
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia berhasil masuk dalam 10 besar regulator obat terbaik dunia pada 2025.
Pengakuan ini menempatkan Indonesia di jajaran elite pengawasan obat dan vaksin global.
>>> Satgas PRR Awasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera
Kepala BPOM Taruna Ikrar menyatakan, pencapaian tersebut ditandai dengan naiknya tingkat kematangan sistem regulasi Indonesia ke level 4.
Level ini merupakan tertinggi dalam penilaian regulator obat internasional.
"Tahun 2025, akhir tahun, kita sudah naik ke level 4. Bukan hanya masuk level 4, tetapi juga masuk regulator terbaik di dunia.
Dari lebih dari 300 regulator, kita masuk 10 besar," ujar Taruna dalam talkshow CNN Indonesia Wellnest Festival Vol.
2 di Jakarta Selatan, Rabu (22/7).
Berdasarkan laman resmi BPOM dan WHO, pada akhir 2025 BPOM ditetapkan sebagai WHO Listed Authority (WLA) untuk lima fungsi regulator produk vaksin.
Fungsi tersebut meliputi registrasi dan izin edar, perizinan fasilitas, inspeksi regulator, pengujian laboratorium, serta lot release.
Status WLA diberikan kepada otoritas regulator yang mencapai Maturity Level 4 (ML4) berdasarkan WHO Global Benchmarking Tool (GBT).
>>> Misi Mars Hadapi Dilema: Risiko 'Penumpang Gelap' Mikroba
Level ini menunjukkan sistem regulasi yang konsisten, maju, stabil, dan diakui secara internasional.
Data WHO mencatat, hingga Desember 2025 hanya terdapat 41 otoritas regulator dari 39 negara yang memperoleh status WLA.
Indonesia menjadi salah satu di antaranya.
Menurut Taruna, pengakuan ini merupakan target utama sejak ia memimpin BPOM, yaitu membawa Indonesia mendapat kepercayaan dunia dalam pengawasan obat dan vaksin.
Selain itu, BPOM juga mempercepat proses registrasi obat.
Rata-rata waktu penerbitan izin edar obat baru kini menjadi sekitar 78 hari pada 2025, jauh lebih singkat dibanding sebelumnya.
"Kami canangkan jangan lewat berbulan-bulan. Tahun 2025 rata-rata obat itu keluar dalam 78 hari.
Artinya terjadi percepatan yang signifikan," imbuhnya.
>>> Pria Ini Hindari Alzheimer Meski Bawa Mutasi Genetik, Ilmuwan Ungkap Teorinya
Percepatan ini membuka akses terhadap lebih banyak obat inovatif, termasuk obat biosimilar dan terapi baru yang sebelumnya sulit tersedia di Indonesia atau memiliki harga tinggi.
Update Terbaru
Pendapatan Negara Melonjak 21,4%, APBN Jadi Penopang Stabilitas Ekonomi
Rabu / 22-07-2026, 21:14 WIB
SKK Migas Optimistis Regulasi Lingkungan Baru Perkuat Operasi dan Investasi Hulu Migas
Rabu / 22-07-2026, 21:14 WIB
Harta Rp31 Miliar, Ini Deret Kendaraan Kepala BGN Sudaryono
Rabu / 22-07-2026, 21:14 WIB
Bos Blueray Ungkap Tersangka Baru Kasus Korupsi di Bea Cukai
Rabu / 22-07-2026, 21:14 WIB
Donny Ermawan Rangkap Jabatan sebagai Wamenhan dan Gubernur URI
Rabu / 22-07-2026, 21:14 WIB
Kans Indonesia ke Piala Dunia 2030 Terbuka Seiring Wacana 64 Peserta
Rabu / 22-07-2026, 21:14 WIB
PBNU dan Kemenkes Perkuat Kerja Sama Sukseskan Program Kesehatan
Rabu / 22-07-2026, 21:11 WIB
DFSK Kantongi 1.100 Pre-Booking E5 Plus Jelang GIIAS 2026
Rabu / 22-07-2026, 21:11 WIB
Parkour Kini Jadi Tren Kebugaran Lansia di Singapura, Kurangi Risiko Jatuh
Rabu / 22-07-2026, 21:11 WIB
Tutup Wellnest Festival, Remaja hingga Ibu-ibu Ramaikan Cardio Dance
Rabu / 22-07-2026, 21:11 WIB
Herdman Bisa Tiru Spanyol Jika Main Tanpa Striker Murni
Rabu / 22-07-2026, 21:10 WIB
Menteri PU Bakal Temui Mensesneg Bahas Gaya Komunikasi
Rabu / 22-07-2026, 21:10 WIB
Enheduanna: Penulis Pertama dalam Sejarah yang Terlupakan
Rabu / 22-07-2026, 21:10 WIB
Cara Terbaik Konsumsi Protein untuk Cegah Kehilangan Otot Setelah Usia 60
Rabu / 22-07-2026, 21:10 WIB







