Para ilmuwan telah lama menyadari tantangan perlindungan planet dalam misi luar angkasa.

Catatan NASA menunjukkan bahwa astronot Apollo meninggalkan hampir seratus kantong kotoran manusia di permukaan Bulan untuk mengurangi bobot saat kembali ke Bumi.

>>> Pria Ini Hindari Alzheimer Meski Bawa Mutasi Genetik, Ilmuwan Ungkap Teorinya

Lingkungan steril Bulan minim risiko interaksi biologis. Namun, target seperti Mars, Europa, dan Enceladus memiliki kondisi yang berbeda.

Di bawah permukaan atau kerak esnya, dunia-dunia itu mungkin menyimpan lingkungan yang bisa menjadi inang atau menyimpan tanda-tanda kehidupan mikroba.

Ekosistem Manusia di Luar Angkasa

Setiap tubuh manusia membawa komunitas mikroba kompleks di kulit, mulut, paru-paru, dan saluran pencernaan. Usus orang dewasa saja menampung hingga 100 triliun mikroorganisme.

Astronot tidak bisa melepaskan sistem biologis ini. Artinya, setiap misi berawak membawa ekosistem ke luar angkasa.

Di habitat potensial, kontaminasi sekecil apa pun bisa mengganggu penelitian ilmiah. Bakteri Bumi yang terbawa dapat mengubah lingkungan alien atau memicu hasil positif palsu dalam pencarian biosignature.

Uji Ketahanan Mikroba

Penelitian doktoral terbaru di Universitas Radboud, Belanda, mengevaluasi reaksi mikroorganisme terestrial terhadap lingkungan luar angkasa.

Studi ini menguji spesies dalam kondisi terisolasi yang meniru Mars, termasuk tekanan atmosfer rendah, suhu ekstrem, radiasi intens, dan kekeringan parah.

Beberapa spesies bertahan terhadap tekanan lingkungan individual secara terpisah. Namun, kondisi gabungan permukaan Mars terbukti jauh lebih destruktif.

>>> Media Vietnam Soroti Trio Naturalisasi Brasil, Timnas Indonesia Diwanti-wanti

Temuan menunjukkan bahwa paparan langsung permukaan Mars membunuh sebagian besar bakteri lepas. Namun, lingkungan mikro yang terlindung di dalam habitat atau pakaian antariksa menghadirkan risiko berbeda.