Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengancam akan menggempur kepentingan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Ancaman ini muncul setelah Presiden Donald Trump mengatakan akan menyerang fasilitas nuklir di Gunung Pickaxe.

>>> Walhi Jatim: Kebakaran TPA Benowo Bukan Insiden Biasa

Markas Besar militer Iran Khatam Al Anbiya menyatakan bahwa serangan AS terhadap fasilitas nuklir atau fasilitas sensitif lainnya akan memicu serangan regional.

Sasaran serangan balasan itu meliputi kepentingan AS, sekutu, dan pendukung Washington, demikian dikutip Anadolu Agency pada Selasa (21/7).

Langkah tersebut akan dianggap sebagai perluasan perang dan akan ditanggapi dengan "kekuatan penuh" dari angkatan bersenjata Iran.

Pernyataan itu muncul setelah Trump mengancam akan menggempur tempat sentrifus nuklir Gunung Pickaxe di Natanz. "Kami akan menyerang kawasan Pickaxe Mountain dalam waktu dekat, dan dengan sangat keras.

Mungkin dalam waktu yang sangat dekat, dan tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk menghentikannya," ucap Trump.

>>> IHSG Ditutup Melemah ke 6.334, 340 Saham Terkoreksi

Pickaxe Mountain menjadi sorotan setelah muncul laporan Iran memindahkan ribuan sentrifus ke sana.

Pemindahan itu menyusul serangan AS dan Israel yang merusak fasilitas-fasilitas nuklir utama Iran selama konflik tahun lalu.

Nyaris dua pekan ini, AS menggempur Iran habis-habisan meski sempat gencatan senjata dan sepakat meneken nota kesepahaman (MoU) yang berisi penghentian pertempuran.

AS bahkan menggempur fasilitas sipil Iran seperti jembatan di sejumlah wilayah.

Iran tak tinggal diam. Mereka meluncurkan balasan ke pangkalan AS di negara-negara Timur Tengah.

>>> Geotab Luncurkan GO Focus Plus, Proaktif Cegah Kecelakaan Armada

Presiden Masoud Pezeshkian bahkan mendeklarasikan perang total gegara pasukan AS menggempur fasilitas sipil dan menargetkan mata pencaharian rakyat Iran.