Seorang jurnalis game menyadari bahwa ia lebih sering memainkan game-game lawas ketimbang rilis baru. Istrinya menegur, "Kamu akhir-akhir ini banyak main game super tua."

Awalnya ia tidak terlalu memikirkan hal itu.

>>> ESPN Pecat Analis NFL Ryan Clark Setelah Lebih dari Satu Dekat

Namun, pernyataan tersebut membuatnya merenung dan menyimpulkan bahwa game lama menjadi semacam selimut keamanan di tengah kondisi industri yang penuh tekanan.

Menulis tentang video game pada 2026 berarti harus menghadapi berita tentang PHK massal dan pujian para eksekutif terhadap kecerdasan buatan.

Setiap pagi, ia bersiap menerima kabar buruk yang harus diteliti dan disampaikan kepada pembaca.

Meski ada kabar menyenangkan seperti crossover Kingdom Come Deliverance 2 dan Balatro, berita-berita menyedihkan semakin mendominasi.

Tidak heran jika ia melarikan diri dari kengerian masa kini dengan tenggelam dalam masa lalu.

Pelarian ke Masa Lalu

Fase retro gaming-nya dimulai secara organik setelah ia cedera punggung. Selama beberapa hari, ia hanya bisa berbaring atau menderita kesakitan.

Aktivitas yang bisa dilakukan hanyalah menonton TV dan bermain game.

Yang mengejutkan, ia secara naluriah hanya memainkan game-game yang dirilis setidaknya 15 tahun lalu.

Dalam keadaan setengah sadar karena obat pereda nyeri, ia meraih game favorit masa kecil seperti Pokemon Leaf Green, Diablo 2, dan The Legend of Zelda: Skyward Sword.

Ini berbeda dengan hubungan kasualnya dengan game retro sebelumnya, yang hanya didorong oleh rasa ingin tahu atau kebosanan.

Kini, obsesinya terhadap game retro lahir dari sesuatu yang lebih disengaja, diputuskan oleh alam bawah sadar yang melindungi kedamaian batinnya.

Ia yakin tidak sendirian merasa kedamaian batinnya terancam oleh berita industri game. Industri ini selalu naik turun, tetapi 2026 terbukti menjadi tahun yang sangat menantang.