Wakil Menteri Luar Negeri RI Anis Matta menilai dunia membutuhkan narasi baru dalam hubungan antarbangsa.

Narasi tersebut diperlukan untuk meredam islamofobia, prasangka antaragama, serta pemanfaatan identitas keagamaan sebagai instrumen konflik geopolitik.

>>> Berhenti Menggali Bookmark Berkat NotebookLM

Pernyataan itu disampaikan Anis saat menjadi pembicara dalam Sajid Diplomat Talk.

Acara tersebut diselenggarakan Serikat Jurnalis Muslim Indonesia (Sajid) di Gedung Konstitusi Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Kamis (16/7/2026).

Menurut Anis, polarisasi global yang menguat sering kali menggunakan sentimen keagamaan.

Hal ini memperburuk hubungan antarbangsa dan memicu diskriminasi terhadap kelompok tertentu.

Ia menekankan perlunya pendekatan diplomasi yang lebih inklusif dan berbasis nilai kemanusiaan.

Narasi baru harus mampu menjembatani perbedaan dan membangun saling pengertian.

>>> Kepergian OnePlus dari AS dan Eropa: Oppo Ogah Gantikan Posisinya

Anis juga mengingatkan bahwa islamofobia tidak hanya merugikan umat Islam, tetapi juga mengancam stabilitas global.

Oleh karena itu, diplomasi harus berperan aktif dalam melawan prasangka dan misinformasi.

Kegiatan Sajid Diplomat Talk dihadiri oleh para diplomat, jurnalis, dan akademisi.

Diskusi ini menjadi forum untuk merumuskan strategi komunikasi yang lebih efektif dalam diplomasi publik.

Anis berharap narasi baru ini dapat diadopsi dalam kebijakan luar negeri Indonesia.

>>> Julia Garner dan Mark Foster Berpisah Setelah Enam Tahun Menikah

Dengan demikian, Indonesia dapat menjadi contoh dalam meredam polarisasi berbasis identitas.