>>> Ahli Waris PPPK Terima Manfaat Rp832,8 Juta dari TASPEN Meski Baru 6 Bulan Jadi Peserta

Kombinasi faktor-faktor inilah yang berkontribusi terhadap meningkatnya risiko stroke maupun penyakit jantung. Menurut Rony, kondisi ini lebih sering ditemukan pada orang dengan berat badan berlebih.

"Kalau orang gemuk, hati-hati," katanya.

Temuan tersebut didukung sejumlah penelitian. Studi dalam Frontiers in Neurology menunjukkan bahwa orang yang mendengkur memiliki risiko stroke 46 persen lebih tinggi.

Sementara itu, penelitian dalam International Journal of Cardiology menemukan bahwa habitual snoring, atau kebiasaan mendengkur lebih dari tiga malam dalam sepekan, berkaitan dengan peningkatan risiko stroke yang bermakna.

Rony menegaskan, mendengkur bukan satu-satunya faktor.

Risiko akan semakin tinggi jika disertai hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, obesitas, kebiasaan merokok, maupun riwayat penyakit kardiovaskular dalam keluarga.

Karena itu, ia menyarankan masyarakat, terutama yang berusia di atas 40 tahun atau memiliki faktor risiko penyakit jantung dan pembuluh darah, untuk rutin menjalani pemeriksaan kesehatan.

"Kalau sudah usia 40 tahun, apalagi punya faktor risiko dan riwayat keluarga, sekarang kan sudah mudah, lakukan saja medical check-up," ujarnya.

Bila mendengkur disertai henti napas saat tidur, rasa kantuk berlebihan pada siang hari, atau pasangan sering melihat napas terhenti saat tidur, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter.

>>> Peringatan Satoru Iwata soal PHK di Industri Game Kembali Disorot

Diagnosis dan penanganan sejak dini dapat membantu menurunkan risiko komplikasi serius, termasuk stroke.