Semakin banyak orang beralih ke kecerdasan buatan untuk mendapatkan saran medis, termasuk rekomendasi perawatan kulit dan identifikasi ruam.

Namun, para ahli memperingatkan bahwa saran dari chatbot AI sering kali tidak akurat dan dapat berdampak buruk pada kesehatan kulit.

>>> Felix Auger-Aliassime Tantang Novak Djokovic di Perempatfinal Wimbledon

Dr Michelle Wong, seorang ahli kimia kosmetik, mengingatkan bahwa chatbot AI seperti ChatGPT menghasilkan output yang ia ibaratkan sebagai "JPEG buram dari seluruh teks di web".

Ia menekankan bahwa pengguna tidak tahu sumber apa yang digunakan chatbot, apakah dari forum pengguna, situs dermatologi, atau blog tanpa bukti ilmiah.

Wong mencontohkan kasus di mana chatbot menyarankan penggunaan beberapa produk dengan bahan aktif yang sama, seperti vitamin A, atau merekomendasikan urutan aplikasi yang tidak biasa.

Bahkan, ada chatbot yang menyarankan produk yang tidak ada atau mengklaim suatu produk bebas dari alergen tertentu padahal tidak.

Dampak Klinis pada Pasien

Dr Anita Lasocki, dokter kulit di Melbourne, telah menangani pasien dengan masalah kulit yang dipicu langsung oleh rekomendasi chatbot.

Ia sering menemukan dermatitis kontak iritan atau flare-up rosacea akibat pasien menggunakan terlalu banyak langkah atau bahan aktif dalam rutinitas perawatan kulit.

Lasocki menambahkan bahwa chatbot AI tidak dapat memberikan diagnosis yang akurat, sehingga pasien membuang waktu dan uang untuk perawatan yang tidak sesuai.

"Masalah intinya adalah chatbot AI tidak bisa memberikan diagnosis yang akurat," ujarnya.

Associate Prof Deshan Sebaratnam dari Skin Hospital di Sydney menekankan kompleksitas dermatologi yang mencakup lebih dari 3.000 kondisi kulit.

>>> Stephano Carrillo Mulai Latihan Bersama Feyenoord U21