Cabai habanero (Capsicum chinense) yang berasal dari Meksiko selama ini dikenal sebagai salah satu cabai terpedas di dunia.

Tingkat kepedasannya berkisar 100.000–350.000 Scoville Heat Units (SHU), jauh di atas cabai rawit yang umumnya 50.000–100.000 SHU.

>>> Puas Belanja Online, Fajar Sadboy Bertransformasi Jadi Happyboy

Popularitas cabai ini mendorong ahli pemuliaan tanaman IPB University, Prof. Muhamad Syukur, mengembangkan varietas habanero yang lebih adaptif terhadap kondisi Indonesia.

"Pada dasarnya cabai habanero di Indonesia belum ada. Yang telah terdaftar sebelumnya hanya Katokkon Sayang dari Sulawesi Selatan.

Karena itu, varietas habanero rakitan IPB University menjadi yang pertama memperoleh perlindungan varietas tanaman," katanya.

Empat Varietas Habanero Lokal

Melalui penelitian selama enam tahun, Prof. Syukur dan tim berhasil menghasilkan empat varietas habanero, yaitu Tabia Sala 1 IPB, Margi 2 IPB, Tabia Sala Oranye IPB, dan Tabia Sala Kuning IPB.

Keempatnya telah terdaftar di Kementerian Pertanian dan memperoleh Hak Perlindungan Varietas Tanaman (PVT).

Masing-masing varietas memiliki warna dan tingkat kepedasan yang berbeda. Tabia Sala 1 IPB berwarna merah dengan tingkat kepedasan paling tinggi, mencapai 1–1,3 juta SHU.

Sementara itu, Margi 2 IPB yang berwarna peach, Tabia Sala Oranye IPB, dan Tabia Sala Kuning IPB memiliki tingkat kepedasan sekitar 350.000–500.000 SHU.

"Tabia Sala 1 IPB memiliki tingkat kepedasan ekstrem, sedangkan tiga varietas lainnya tetap berada pada kategori cabai super pedas," ujar Prof. Syukur.

Dirancang untuk Iklim Indonesia

Selain menghasilkan tingkat kepedasan tinggi, penelitian ini juga bertujuan mengatasi kelemahan cabai habanero impor yang umumnya kurang mampu beradaptasi dengan iklim tropis.

>>> Heboh Isu Demosi Massal di KemenPU: Gaji Pegawai Anjlok dari Rp24 Juta ke Rp5 Juta, Netizen Soroti Potensi Maladministrasi