Sebanyak 30 warga sipil tewas akibat serangan beruntun yang dilancarkan Amerika Serikat di Iran selatan dalam beberapa hari terakhir.

Juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, mengonfirmasi jumlah korban tersebut pada Rabu (15/7).

>>> IHSG Ditutup Hijau di Level 6.041 pada Perdagangan Rabu Sore

"Sambil menyampaikan belasungkawa dan simpati kami kepada keluarga yang ditinggalkan, kami menghormati kenangan para pahlawan yang gugur," kata Mohajerani, dikutip Al Jazeera.

Ia menambahkan bahwa pemerintah akan berdiri di sisi rakyat dengan segenap kekuatannya dan menyebut Iran selatan sebagai jantung negara.

Serangan Targetkan Infrastruktur Sipil

Dalam rentetan serangan tersebut, AS menargetkan infrastruktur sipil seperti jembatan. Kota Bushehr, pusat pembangkit listrik Iran, juga menjadi sasaran.

Gubernur Kota Bushehr, Mohammad Mozafari, melaporkan bahwa musuh Amerika menyerang tiga lokasi di wilayahnya. Namun, belum ada laporan kerusakan atau korban jiwa dari serangan itu.

>>> Chandler Walters Gantikan Zach John King di Freedom Fest

Serangan AS ini terjadi setelah Presiden Donald Trump mengultimatum Teheran bahwa pembangkit listrik tenaga nuklir dan jembatan akan menjadi target di fase terakhir.

Trump menyatakan akan terus melakukan serangan "sangat keras" hingga Iran bersedia bernegosiasi dan memenuhi permintaan Gedung Putih.

Sebelumnya, AS dan Iran sempat menandatangani nota kesepahaman (MoU) yang berisi penghentian pertempuran dari semua front, tidak memulai serangan, menghargai kedaulatan, dan tidak campur tangan urusan internal masing-masing.

>>> Bobby Nasution Sebut Wajar Prabowo Minta Pengawasan SPPG MBG

Namun, AS tercatat beberapa kali melanggar MoU tersebut, termasuk dengan menargetkan infrastruktur sipil yang merupakan kejahatan perang.