Melalui proses pemuliaan tanaman, varietas habanero IPB dikembangkan agar lebih sesuai dengan kondisi lingkungan Indonesia, termasuk memiliki daya adaptasi yang lebih baik terhadap iklim dan gangguan hama.

Saat ini benih keempat varietas tersebut telah diproduksi dan didistribusikan melalui Benih Dramaga, sehingga mulai dapat dimanfaatkan oleh petani di berbagai daerah.

Menurut Prof. Syukur, peluang pengembangannya cukup besar.

Di dalam negeri, cabai dengan tingkat kepedasan tinggi banyak dibutuhkan industri makanan karena penggunaan cabai menjadi lebih efisien.

Salah satu perusahaan di Bogor bahkan telah menyatakan minat mengembangkan bubuk cabai dari varietas habanero IPB.

Selain pasar domestik, varietas ini juga dinilai memiliki peluang ekspor, termasuk ke Korea Selatan sebagai bahan baku hot pack, produk penghangat tubuh yang digunakan saat musim dingin.

Namun, perjalanan penelitian tersebut tidak mudah.

Prof. Syukur mengaku timnya menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan pendanaan, lahan penelitian dan rumah kaca, kebutuhan tenaga pendukung, hingga mahalnya peralatan untuk mengukur tingkat kepedasan cabai.

>>> Siapa Anak dan Istri Rob Dieperink? Wasit Belanda yang Meninggal Dunia, Bukan Orang Sembarangan?

Meski demikian, ia berharap inovasi ini dapat membuka peluang baru bagi petani sekaligus memperkuat daya saing Indonesia dalam pengembangan varietas cabai super pedas di pasar global.