Saya berusia 13 tahun ketika seorang ahli bedah tulang belakang memberikan nasihat karier yang tidak diminta.

"Skoliosis tidak akan menghancurkan hidupmu," katanya sambil melirik dari balik kacamatanya, "kecuali jika kamu ingin menjadi model bikini."

>>> Perkuat SDM Industri, Menperin Agus Gumiwang Gaspol Cetak Asesor Kompetensi

Sebagai remaja, saya belum banyak memikirkan prospek pekerjaan, apalagi modeling. Namun kata-katanya terasa menyakitkan.

Situasi itu menjadi skenario kalah-kalah: menjalani operasi menyakitkan untuk memasang batang logam di tulang belakang, atau menjalani hidup dengan punggung yang bengkok secara tidak normal.

Hingga saat itu, saya memandang kelengkungan tulang belakang hanya dari segi pengalaman batin: rasa sakit. Kini saya sadar ada dimensi eksternal: sebuah cacat.

Sesuatu yang harus disembunyikan.

Hal ini tidak menguntungkan saya sebagai remaja di era Instagram.

Meskipun saya menolak operasi karena risiko dan cuti sekolah yang panjang, komentar ringan dokter bedah itu membebani saya dengan rasa malu.

Pendekatannya sangat berbeda dengan guru dansa masa kecil saya, yang pertama kali mengidentifikasi skoliosis saya.

Setelah pelajaran, ia bertanya dengan ramah apakah saya merasa tidak nyaman di pinggul, yang terlihat tidak rata di balik leotard, dan menyarankan saya menemui dokter.

Hal ini berujung pada kunjungan rumah sakit dua kali setahun dengan mesin MRI yang mengesankan dan orang dewasa berjari dingin yang menempelkan stiker di tulang belakang saya.

Tes mengonfirmasi bahwa skoliosis saya adalah torakolumbal, mengacu pada kelengkungan tulang belakang antara dada dan punggung bawah. Lengkungan itu memiringkan panggul saya, membuat pinggul dan kaki tidak rata.

Yang paling terlihat, pinggul kanan saya lebih tinggi dari kiri, menyebabkan tubuh bagian atas miring seperti Menara Pisa.