Waktu seolah berlari tanpa jeda. Tak terasa, kita kini berada di detik-detik terakhir Bulan Muharram 1448 Hijriah. Bulan pertama dalam kalender Islam yang juga tercatat sebagai salah satu dari empat bulan haram (mulia) ini segera pamit, bersiap digantikan oleh Bulan Safar.
 
Bagi umat Islam, pergantian bulan bukan sekadar pergantian lembar kalender. Ia adalah pengingat spiritual akan berjalannya usia dan kesempatan untuk menabung pahala. Lantas, bagaimana seharusnya seorang Muslim menyikapi hari-hari akhir Muharram ini?
 
Menyambut khutbah Jumat di pertengahan Juli 2026 ini, berikut adalah rangkuman mendalam sekaligus teks lengkap khutbah Jumat tentang amalan akhir Bulan Muharram, filosofi waktu dalam Islam, dan cara menyongsong Bulan Safar dengan optimisme, dilansir dari berbagai literatur keislaman dan NU Online.
 

 

Mengenal Asyhurul Hurum: Momentum Emas yang Segera Berlalu

Sebagaimana diketahui, Bulan Muharram memiliki posisi yang sangat istimewa. Ia adalah bagian dari asyhurul hurum atau bulan-bulan haram yang dimuliakan oleh Allah SWT. Dalam tradisi Islam, bulan haram bukan berarti bulan yang "menakutkan", melainkan bulan yang di dalamnya dilarang keras untuk berbuat maksiat, kerusakan, hingga pertumpahan darah.
 
Tiga bulan haram lainnya adalah Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Rajab. Keempat bulan ini adalah "lahan subur" bagi para pencari rahmat Allah. Oleh karena itu, para ulama senantiasa mengingatkan umat Islam untuk memanfaatkan sisa hari di bulan Muharram ini untuk memperbanyak puasa sunah, dzikir, sedekah, dan memperkuat solidaritas sosial.
 
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surat At-Taubah ayat 36: "Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram (mulia). Itulah (ketetapan) agama yang lurus."