Filosofi Waktu: Memuliakan Waktu Berarti Memuliakan Diri Sendiri

Mengapa Allah mengistimewakan waktu-waktu tertentu? Imam al-Ghazali dalam mahakaryanya, Ihya’ ‘Ulûmid-Dîn, mengenalkan istilah al-ayyâm al-fâdhilah (hari-hari utama). Menurutnya, waktu adalah makhluk Allah. Sama seperti adanya tempat-tempat mulia (seperti Masjidil Haram), terdapat pula waktu-waktu yang dimuliakan (seperti bulan Ramadhan, Muharram, atau sepertiga malam terakhir).
 
Namun, kemuliaan waktu ini memiliki korelasi langsung dengan kemuliaan manusia. Ibnu ‘Asyur dalam tafsir At-Tahrîr wat Tanwîr memberikan penjelasan yang sangat mendalam dan logis. Ia menyatakan bahwa dimuliakannya waktu dan tempat tertentu sejatinya adalah kehendak Allah untuk memuliakan manusia, melalui perbuatan-perbuatan baik dan akhlak mulia yang mereka lakukan di waktu tersebut.
 
Artinya, kemuliaan Bulan Muharram tidak akan otomatis membuat seorang Muslim menjadi mulia. Kemuliaan itu baru akan diraih jika sang hamba mau "mengisi" waktu spesial tersebut dengan amal saleh. Jika Muharram dilewatkan begitu saja tanpa peningkatan kualitas takwa, maka ia hanya akan berlalu seperti bulan-bulan biasa.
 

Mengikis Mitos "Bulan Sial" dengan Logika Islam

Menutup Muharram berarti bersiap menyambut Bulan Safar. Di tengah masyarakat Indonesia, kerap kali tumbuh mitos atau kepercayaan keliru yang mengaitkan bulan Safar dengan kesialan, bala, atau musibah.
 
Padahal, Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi fungsi akal sehat dan logika. Dalam khutbahnya, ditegaskan bahwa sial atau beruntung bukanlah mitos khayalan yang terikat pada nama bulan. Segala sesuatu adalah hasil dari proses, perencanaan, dan ikhtiar yang wajar.
 
  • Agar terbebas dari penyakit, manusia diperintahkan hidup bersih dan menjaga imun, bukan menyalahkan bulan.
  • Agar tidak bangkrut, pedagang harus teliti berhitung, bukan takut berdagang di bulan tertentu.
  • Agar lulus, pelajar harus belajar serius.