Mantan komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Hossein Kanani Moghaddam menyatakan militer Iran mampu menargetkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, bahkan saat ia berada di dalam Gedung Putih.

Pernyataan itu disampaikan Moghaddam kepada media lokal Iran dan dikutip Middle East Monitor pada Senin (13/7).

>>> Viral Waffle House Employee Rockstar Riley Tolak Tawaran Rp16 Miliar Demi Pekerjaannya

"Jika tujuannya adalah untuk membunuh Trump, Republik Islam dapat dengan mudah melakukannya di Gedung Putih," ujar Moghaddam.

Ia menambahkan, "Kapan pun diperlukan, kami mampu melakukannya."

Negosiasi Iran-AS Dinilai Bukan untuk Perdamaian

Dalam kesempatan yang sama, Moghaddam juga mengomentari pembicaraan antara Iran dan Amerika Serikat. Menurutnya, negosiasi tersebut tidak bertujuan mencapai kesepakatan perdamaian.

"Kami tidak bernegosiasi dengan Amerika untuk perdamaian. Kami bernegosiasi untuk mengurangi ketegangan," kata dia.

Ia menegaskan bahwa pembicaraan dengan pemerintahan AS bertujuan memperkuat tuntutan Iran dan menyampaikan posisi mereka.

>>> Prancis vs Spanyol: Lini Serang Tersubur Kontra Pertahanan Terbaik di Piala Dunia 2026

"Kami tidak bernegosiasi untuk perdamaian dengan Trump dan para pembantunya yang kriminal," ujar Moghaddam.

"Dalam negosiasi, kami hanya berupaya memulihkan hak-hak kami dan mengklarifikasi tuduhan yang dilayangkan Amerika Serikat. Adapun pembalasan dan tindakan balasan, itu tetap menjadi pilihan utama," imbuhnya.

AS dan Iran sebelumnya telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) yang berisi penghentian pertempuran dan pencairan aset Iran yang dibekukan.

Kesepakatan itu juga mewajibkan kedua negara melakukan negosiasi dalam 60 hari untuk mengakhiri perang secara permanen.

>>> Gabung Persija, Aqil Savik Akui Sempat Minta Restu Istri dan Keluarga di Bandung

Namun di tengah upaya negosiasi, AS dilaporkan melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran. Serangan itu disebut sebagai alat tawar Washington agar Teheran bersedia memenuhi permintaan mereka.