Kasus Pembakaran Santri di Lombok Makin Serius: Dugaan Bullying oleh Anak Pemilik Ponpes dan Senior Mencuat, Korban Sempat Diancam Dibakar
Ukuran Teks
Kasus tragis pembakaran tiga santri di Pondok Pesantren Rosyidatusshaulatiyyah Al Ibrahimy NW, Lombok Tengah, terus bergulir dan mengungkap lapisan demi lapisan fakta yang semakin mengerikan. Awalnya diduga sebagai insiden tunggal, penyelidikan kepolisian kini mengarah pada pola perundungan (bullying) sistematis yang melibatkan tidak hanya santri senior, tetapi juga diduga kuat anak dari pemilik pondok pesantren tersebut.
Hingga Selasa (14/7/2026), pihak kepolisian telah menetapkan dua orang tersangka atas kasus yang mencoreng dunia pendidikan pesantren ini. Keduanya adalah santri senior berinisial MR dan pimpinan pondok pesantren berinisial AMR. Namun, di luar penetapan tersangka tersebut, kuasa hukum keluarga santri korban, Putri Maya Rumanti, mengungkap adanya dugaan perundungan berkepanjangan yang menjadi latar belakang utama insiden berdarah ini.
Dugaan Keterlibatan Anak Pemilik Ponpes dalam Praktik Perundungan
Dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Komisi III DPR RI yang disiarkan melalui YouTube TV Parlemen pada Senin (13/7/2026), Putri Maya Rumanti menyampaikan temuan mengejutkan dari pendampingan terhadap keluarga korban. Ia menduga bahwa praktik perundungan tidak hanya dilakukan oleh MR, tetapi juga melibatkan seorang anak dari pemilik pondok pesantren yang berinisial Y.
Pengungkapan ini sontak menambah dimensi baru dalam kasus yang telah menyita perhatian publik nasional. Jika terbukti, keterlibatan anak pemilik ponpes akan memperburuk citra institusi pendidikan yang seharusnya menjadi tempat aman bagi para santri untuk menuntut ilmu dan membentuk karakter.
Detail Mengerikan: Dari Coretan di Tubuh hingga Kekerasan Fisik
Putri menjelaskan secara rinci modus perundungan yang dialami oleh para santri korban berdasarkan pengakuan yang berhasil dihimpun. MR, sang santri senior, disebut kerap melakukan tindakan degradatif berupa mencoret-coret tubuh salah satu korban. Tindakan yang tampak sepele ini nyatanya merupakan bentuk dominasi dan pelecehan psikologis yang terus-menerus.
Editor: Hasyim Wijaya
Update Terbaru
Apa Bedanya Bekas Jerawat PIH dan PIE? Ini Perbedaan hingga Cara Memudarkannya
Selasa / 14-07-2026, 17:29 WIB
Roy Suryo Pecat Pengacara yang Tak Setia, Tunjuk Gofur Sangaji dan Soraya
Selasa / 14-07-2026, 17:28 WIB
Purbaya: Indonesia Tak Cemas, Melainkan Menuju Indonesia Emas
Selasa / 14-07-2026, 17:28 WIB
Penghapusan SLIK Dinilai Bisa Picu Lonjakan Kredit Bermasalah
Selasa / 14-07-2026, 17:28 WIB
Don Ritto Bantah Uang Rp60 Miliar Terkait Korupsi, Klaim untuk Bangun Pelabuhan
Selasa / 14-07-2026, 17:28 WIB
Masuk 44 Tahun, Song Ji Hyo Ungkap Alasan Belum Menikah dan Nyaman Melajang
Selasa / 14-07-2026, 17:28 WIB
Warga RI Paling Rajin Minta Gemini AI Bikin Gambar, 9 Juta Sehari!
Selasa / 14-07-2026, 17:28 WIB
Agen Federal Serbu Rumah Jurnalis New York Times dengan Surat Panggilan
Selasa / 14-07-2026, 17:24 WIB
Memoar Lindsey Graham Ungkap Sejarah Rumit soal Rasisme di Selatan
Selasa / 14-07-2026, 17:24 WIB
Tips dan Trik Nonton Piala Dunia 2026 Agar Makin Seru, Lancar, dan Tidak Ketinggalan Momen Penting
Selasa / 14-07-2026, 17:24 WIB
PTPP Raih Proyek Pembangunan Tower 4 ITS Senilai Rp151,9 Miliar
Selasa / 14-07-2026, 17:21 WIB
10 Game Mirip Valorant Terbaik di Android dan PC
Selasa / 14-07-2026, 17:20 WIB
Satu Perubahan pada Android Ini Membuat Saya Buka Aplikasi Lebih Cepat
Selasa / 14-07-2026, 17:20 WIB
Avengers Doomsday: Durasi 2 Jam 45 Menit, Fans Terbelah
Selasa / 14-07-2026, 16:49 WIB







