Agen federal mendatangi rumah sejumlah jurnalis New York Times pekan lalu dan memberikan surat panggilan pengadilan. Langkah ini memicu kekhawatiran serius tentang kebebasan pers di Amerika Serikat.

Bagi masyarakat umum, surat panggilan pemerintah mungkin tampak seperti masalah hukum biasa.

>>> Memoar Lindsey Graham Ungkap Sejarah Rumit soal Rasisme di Selatan

Namun, bagi jurnalis, tindakan ini dianggap sebagai serangan terhadap hak fundamental untuk mengumpulkan informasi dan menjaga kerahasiaan sumber.

Reaksi Keras dari Organisasi Pers

Stephen Adler, ketua Reporters Committee for Freedom of the Press, menyuarakan kemarahan kolektif industri pers.

Ia mengatakan bahwa ketika hak publik untuk tahu dihancurkan seperti yang dilakukan pemerintahan Trump, semua pihak menderita kerugian yang tidak dapat diperbaiki.

Joseph Kahn, pemimpin redaksi New York Times, menyebut surat panggilan itu sebagai upaya telanjang untuk mengintimidasi jurnalis individu.

>>> Tips dan Trik Nonton Piala Dunia 2026 Agar Makin Seru, Lancar, dan Tidak Ketinggalan Momen Penting

Ia juga menegaskan bahwa Times akan membela jurnalisnya secara agresif.

Surat panggilan tersebut secara khusus meminta para jurnalis Times untuk bersaksi terkait pesawat Boeing 747 yang disumbangkan kepada Trump oleh pemerintah Qatar.

Trump berencana menggunakan pesawat itu sebagai pengganti potensial untuk Air Force One.

Laporan Times mengungkapkan bahwa pertimbangan keamanan membuat Secret Service menyarankan Trump untuk tidak menggunakan pesawat tersebut saat berangkat dari Turki.

>>> PTPP Raih Proyek Pembangunan Tower 4 ITS Senilai Rp151,9 Miliar

Akibatnya, Trump terbang menggunakan versi lama pesawat kepresidenan.