Pemerintah China memecat salah satu pejabat tinggi Partai Komunis China (PKC) di Provinsi Xinjiang, Ma Xingrui, karena dugaan korupsi.

Ma dicopot dari semua jabatannya atas tuduhan korupsi, termasuk nepotisme, penyuapan, dan membayar jasa prostitusi, demikian keterangan media pemerintah pada Selasa (14/7) dikutip AFP.

>>> Dua Momen Inggris Hajar Argentina Saat Pakai Jersey 'Jimat' Piala Dunia

Pria berusia 66 tahun itu merupakan anggota Politbiro Partai Komunis, badan pembuat keputusan tertinggi yang dipimpin Presiden Xi Jinping.

Politbiro menyetujui laporan dari badan pengawas anti-korupsi partai yang memuat daftar panjang tuduhan terhadap Ma. Kantor berita Xinhua melaporkan bahwa Ma telah diselidiki sejak April.

Investigasi mendapati Ma telah membantu anggota keluarganya membeli rumah dengan harga di bawah pasar, terlibat transaksi kekuasaan untuk seks dan uang untuk seks, serta membiarkan keluarganya memanfaatkan pengaruh posisinya untuk mencari keuntungan besar.

Ia juga diduga mencari keuntungan bagi orang lain dalam bisnis, kontrak proyek, dan promosi jabatan, serta secara ilegal menerima sejumlah besar uang dan barang berharga.

Xinhua menyebut kasusnya sangat serius.

>>> Prabowo Panggil Luhut, Chatib Basri, hingga Mari Elka ke Hambalang

Ma mendapat kewenangan atas Xinjiang, provinsi mayoritas Muslim di China, antara tahun 2021 dan 2025.

Wilayah timur laut tersebut menghadapi serangkaian serangan mematikan terhadap warga sipil hingga pertengahan 2010-an yang oleh Beijing dituduhkan kepada kelompok separatis bersenjata dan Islamis.

Selama dekade terakhir, Xinjiang menjadi sasaran penindakan keras oleh otoritas Beijing atas nama pemberantasan terorisme, terutama menargetkan minoritas Muslim Uighur.

Organisasi hak asasi manusia telah mengutuk penindakan tersebut.

>>> Prime Video Ungkap Tampilan Perdana Serial Carrie Garapan Mike Flanagan

Sebuah laporan pada 2022 oleh mantan komisaris tinggi PBB untuk hak asasi manusia, Michelle Bachelet, menyebutkan kemungkinan kejahatan terhadap kemanusiaan di Xinjiang.