Iran dilaporkan masih mampu mengirim lebih dari 80 juta barel minyak mentah dan produk olahan melalui Selat Hormuz dalam 26 hari terakhir, meskipun tengah berperang melawan Amerika Serikat.

Data dari lembaga pemantau lalu lintas maritim Tanker Trackers menunjukkan pengiriman tersebut bernilai sekitar US$6 miliar atau setara Rp108 triliun dalam empat pekan terakhir.

>>> Cek BLT 2026 Pakai NIK, Begini Cara Mengetahui Status Penerima Secara Online

Namun, jutaan barel lainnya masih menunggu keberangkatan.

Tanker Trackers menyebut sekitar 30 juta barel minyak mentah Iran belum berangkat setelah blokade Angkatan Laut AS diberlakukan kembali lebih cepat dari jadwal.

Kelompok pemantau itu juga mencatat ada lebih dari 60 juta barel kapasitas penyimpanan terapung yang tersedia di dalam perimeter blokade jika Iran terpaksa mengurangi produksi minyaknya.

>>> Mensos Minta Pelaksanaan MPLS Aman dan Nyaman Tanpa Perpeloncoan

Ekspor Minyak Iran Tetap Berjalan

Menteri Perminyakan Iran Mohsen Paknejad menegaskan ekspor minyak Teheran akan berlanjut seperti biasa meskipun AS memberlakukan kembali sanksi terhadap penjualan tersebut.

Mohsen mengatakan Iran telah lama membangun struktur yang diperlukan untuk melawan dampak sanksi AS. Mekanisme itu tetap berlaku meskipun ada penangguhan 60 hari.

Departemen Keuangan AS sebelumnya setuju mencabut sanksi terhadap penjualan minyak Iran selama 60 hari sebagai bagian dari perjanjian gencatan senjata.

>>> Antam Siap Serap 100 Persen Produksi Emas dari Smelter Freeport Gresik

Sanksi tersebut diberlakukan kembali pada 7 Juli bersamaan dengan serangan AS terhadap Iran.