PT Freeport Indonesia (PTFI) memastikan seluruh produksi emas dari fasilitas Precious Metal Refinery (PMR) di Gresik akan diserap PT Aneka Tambang Tbk (Antam).

Langkah ini menjadi bagian dari penguatan hilirisasi mineral dan pemenuhan kebutuhan logam mulia dalam negeri.

>>> Dilema Lini Tengah Spanyol vs Prancis: Pedri atau Fabian Ruiz?

Presiden Direktur PTFI Tony Wenas mengungkapkan PMR yang terintegrasi dengan smelter tembaga di Gresik mampu memproduksi sekitar 50 ton emas murni setiap tahun.

Seluruh produksi tersebut direncanakan akan di-offtake oleh Antam.

"Dari smelter tersebut dihasilkan lumpur anoda yang mengandung emas, perak, dan logam lainnya.

Setelah dimurnikan di Precious Metal Refinery akan bisa mencapai produksi emas sebesar 50 ton per tahun dan rencananya ini akan 100 persen di-offtake oleh PT Antam," kata Tony dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Selasa (14/7).

Selain emas, PMR juga akan menghasilkan sekitar 200 ton perak murni per tahun.

Menurut Tony, produksi perak akan diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik, sementara kelebihan produksi dapat diekspor.

Fasilitas tersebut juga akan memproduksi berbagai logam bernilai tinggi lainnya, seperti sekitar 30 kilogram platina, 375 kilogram paladium, 285 ton selenium, 220 ton bismut, serta 2.200 ton timbal setiap tahun.

>>> Parlemen Inggris Desak Larangan Kartun Rusia Masha and the Bear

Tony mengatakan seluruh logam mulia tersebut berasal dari proses pemurnian lumpur anoda, yaitu produk sampingan hasil peleburan konsentrat tembaga di smelter Freeport Gresik.

Selain logam mulia, kompleks smelter juga akan menghasilkan produk sampingan berupa sekitar 1,5 juta ton asam sulfat, 1,3 juta ton copper slag atau terak tembaga, serta 150 ribu ton gipsum setiap tahun.