PT Freeport Indonesia (PTFI) melalui Smelter Manyar di kawasan Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur, menjadi bukti nyata program hilirisasi mineral nasional yang terus bergulir.

Presiden Direktur PTFI, Tony Wenas, menyatakan persiapan operasional smelter berjalan sesuai jadwal. Ia menargetkan produksi dimulai pada September 2026, dengan pengolahan konsentrat sudah dimulai pada Agustus.

>>> Pendaftaran Magang Nasional Tahap II Dibuka Rabu Besok, Gaji UMP

Peningkatan pasokan konsentrat dari tambang Grasberg Block Cave (GBC) akan menjadi penopang utama smelter. Konsentrat mulai dialokasikan secara bertahap ke Smelter Manyar mulai September 2026.

Target kapasitas produksi mencapai sekitar 65 persen pada paruh kedua 2026, meningkat menjadi 75 persen pada semester I 2027, dan kapasitas penuh 100 persen pada semester II 2027.

Investasi Raksasa dan Dampak Ekonomi

Smelter Manyar dibangun dengan investasi sekitar US$3,7 miliar atau setara Rp58 triliun, menjadikannya salah satu proyek hilirisasi mineral terbesar oleh swasta di Indonesia.

Fasilitas ini memiliki kapasitas pengolahan hingga 1,7 juta ton konsentrat tembaga per tahun, dilengkapi Precious Metal Refinery berkapasitas 6.000 ton per tahun untuk mengekstraksi emas, perak, dan mineral ikutan.

Menurut JIIPE, smelter ini dirancang dengan teknologi jalur tunggal (single line) berkapasitas terbesar di dunia.

Selama masa konstruksi, proyek ini menyerap tenaga kerja hingga 11.000 orang. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengapresiasi investasi besar ini saat meninjau langsung kemajuan pembangunan.

>>> Persija Resmi Rekrut Kyohei Yoshino dari Cerezo Osaka

Pemerintah memberikan dukungan melalui kebijakan seperti penetapan kawasan pabean khusus dan fasilitas pembebasan bea masuk barang modal, mencerminkan posisi strategis Smelter Manyar dalam hilirisasi nasional.