Di tengah percepatan transisi energi global, tembaga menjadi salah satu komoditas paling diperebutkan. Bahan baku ini digunakan untuk kabel listrik, baterai kendaraan listrik, panel surya, hingga turbin angin.

Indonesia, melalui PT Freeport Indonesia (PTFI) yang mengoperasikan tambang Grasberg di Papua, berada di posisi strategis.

>>> FBI Tawarkan Hadiah Rp240 Juta untuk Kasus Bayi Tewas di Festival Electric Forest

Presiden Direktur PTFI Tony Wenas menyatakan lonjakan kebutuhan tembaga sejalan dengan elektrifikasi global.

Sekitar 65 persen tembaga dunia digunakan dalam aplikasi konduktivitas listrik.

Kebutuhan tembaga mencapai 1,5 ton per megawatt untuk pembangkit listrik tenaga angin dan 5,5 ton per megawatt untuk tenaga surya.

"Permintaan tembaga meningkat karena dibutuhkan dalam transisi energi, salah satunya untuk elektrifikasi," kata Tony.

Pada kendaraan listrik, kebutuhan tembaga jauh lebih besar dibanding mobil konvensional.

Tony menyebut kendaraan listrik memerlukan tembaga empat hingga lima kali lebih banyak, mulai dari motor penggerak hingga sistem pengisian daya.

Cadangan dan Hilirisasi Tembaga

Menurut data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Indonesia menempati posisi tujuh besar cadangan tembaga dunia dengan porsi sekitar 3 persen.

Dari sisi produksi tambang, Indonesia berada di peringkat ke-11.

Freeport Indonesia melaporkan hasil eksplorasi terbaru menunjukkan cadangan tembaga yang dapat diekstraksi hingga 2041 meningkat menjadi 8 miliar pon, naik dari perkiraan sebelumnya 7 miliar pon.

Senior Vice President Underground Mine PTFI Hengky Rumbino menyoroti besarnya sumber daya bijih tembaga yang belum masuk hitungan cadangan resmi karena keterbatasan masa kontrak.

Di area Grasberg Block Cave, tercatat kandungan cadangan mineral hingga ratusan juta ton metrik.

"Artinya kalau kontrak kita hanya sampai di 2041, ada cadangan yang tidak bisa dioptimalkan," ujar Hengky.