>>> 6 Makanan Ini Baik untuk Kesehatan Prostat, Pria Wajib Tahu

Hilirisasi memperkuat posisi tawar Indonesia di rantai pasok tembaga global.

Freeport tengah menggenjot produksi katoda tembaga melalui Smelter Manyar di Gresik, yang menjadi salah satu fasilitas peleburan berdesain jalur tunggal terbesar di dunia.

VP Government Relations Freeport Indonesia Harry Pancasakti optimistis kombinasi produksi PT Smelting dan Smelter Manyar, ditambah kapasitas AMMAN, dapat mengerek posisi Indonesia dalam peta produsen katoda tembaga global.

"Ini akan menempatkan Indonesia dalam big four produsen katoda di dunia," ujarnya.

Founder & Advisor ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto menyebut tiga sektor utama pendorong permintaan tembaga ke depan: infrastruktur dan kelistrikan, industri energi baru terbarukan, serta industri otomotif khususnya kendaraan listrik.

Ketiga sektor ini diperkirakan terus bertumbuh seiring target dekarbonisasi.

Direktur Eksekutif Indonesia Mining & Energy Watch Ferdy Hasiman menilai posisi tembaga sebagai komoditas strategis nasional semakin relevan.

"Kebutuhan dunia terhadap mineral kritis terus meningkat seiring perkembangan industri kendaraan listrik dan energi terbarukan," katanya.

Ekspansi Freeport merambah ke luar Indonesia.

Pada Maret 2026, perusahaan induk Freeport-McMoRan mulai memproses perizinan lingkungan untuk proyek tambang tembaga El Abra di Chile dengan investasi US$7,5 miliar.

Langkah ini menunjukkan permintaan tembaga global mendorong ekspansi di Papua dan memperluas jejak bisnis ke kawasan lain.

>>> Sidang Blueray Ungkap Uang Ratusan Juta untuk Karaoke Pejabat Bea Cukai

Dengan cadangan besar di Grasberg, kapasitas smelter yang terus bertambah, serta permintaan global yang diproyeksikan meningkat, tembaga Freeport berpeluang menjadi tulang punggung baru perekonomian Indonesia.