Kecerdasan buatan (AI) kini dimanfaatkan untuk membantu mendeteksi pasien gagal jantung yang berisiko mengalami kekambuhan.

Inovasi tersebut dikembangkan oleh dokter spesialis jantung dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Rony Marethianto Santoso, melalui teknologi bernama NAVI-HF.

>>> Studi: Hampir Setengah Unggahan Panjang di LinkedIn Dibuat AI

Teknologi ini dipresentasikan dalam sidang terbuka promosi doktor Ilmu Kedokteran di Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta, Selasa (15/7).

NAVI-HF dirancang untuk membantu dokter mengidentifikasi pasien gagal jantung yang masih berisiko tinggi mengalami kekambuhan sebelum dipulangkan dari rumah sakit.

"Penelitian ini sebetulnya adalah bagaimana kita menciptakan suatu alat baru untuk membantu pelayanan dokter, terutama di tempat-tempat yang fasilitas pemeriksaan gagal jantungnya belum tersedia," ujar Rony dalam Media Gathering bersama Primaya Hospital Tangerang.

AI Deteksi Cairan Paru yang Tak Terdengar Stetoskop

Gagal jantung terjadi ketika kemampuan jantung memompa darah menurun, menyebabkan penumpukan cairan di paru-paru.

Salah satu penyebab pasien kembali dirawat adalah masih adanya penumpukan cairan di paru-paru yang tidak terdeteksi melalui pemeriksaan klinis biasa.

Menurut Rony, kondisi tersebut sering kali bersifat subklinis, yakni belum menimbulkan suara khas yang dapat didengar dokter menggunakan stetoskop.

Melalui analisis suara napas yang direkam menggunakan stetoskop digital, sistem AI mampu mengenali pola suara yang mengindikasikan masih adanya cairan di paru-paru.

Jika hasil analisis menunjukkan pasien masih berisiko mengalami kongesti paru, dokter dapat menunda kepulangan pasien atau menyesuaikan terapi hingga kondisinya benar-benar stabil.

>>> Studi: Hampir Setengah Unggahan Panjang di LinkedIn Dibuat AI

Berpotensi Digunakan Pasien dari Rumah

Tak hanya membantu dokter di rumah sakit, teknologi NAVI-HF juga dirancang agar ke depan dapat digunakan langsung oleh pasien di rumah.