Konsepnya cukup sederhana. Pasien hanya perlu menggunakan stetoskop digital portabel yang terhubung ke ponsel.

Rekaman suara napas kemudian dianalisis oleh aplikasi berbasis AI. Apabila sistem mendeteksi tanda-tanda penumpukan cairan di paru-paru, pasien akan menerima peringatan untuk segera berkonsultasi dengan dokter.

"Kalau nanti alat ini bisa diminiaturisasi, pasien bisa membawa alatnya sendiri di rumah. Tinggal disambungkan ke gadget, lalu diperiksa sendiri," kata Rony.

Ke depan, sistem tersebut juga akan dikembangkan agar terhubung dengan layanan cloud, sehingga dokter dapat memantau kondisi pasien dari jarak jauh.

Dalam mengembangkan algoritma AI, tim peneliti mengumpulkan data dari sekitar 246 pasien yang berasal dari sejumlah rumah sakit rujukan gagal jantung di Indonesia.

Rony mengatakan hasil awal menunjukkan algoritma tersebut memiliki sensitivitas, spesifisitas, dan tingkat akurasi yang baik dalam mengidentifikasi pasien yang masih mengalami kongesti paru.

Meski demikian, ia menegaskan teknologi ini tidak dirancang untuk menggantikan peran dokter. AI berfungsi sebagai alat bantu agar pengambilan keputusan klinis menjadi lebih akurat.

>>> Transjakarta Koridor 'Jalur Langit' Terganggu Pembongkaran JPO, Macet Mengular

"Kami berharap alat ini bisa membantu dokter mengambil keputusan yang lebih tepat dan pada akhirnya menurunkan angka pasien yang harus dirawat berulang kali," pungkasnya.