Indonesia membawa potensi industri kimia dan farmasi nasional ke panggung INNOPROM 2026 di Ekaterinburg, Rusia, pada 6-9 Juli 2026.

Sebagai Official Partner Country, Indonesia menghadirkan enam pelaku industri yang mewakili rantai nilai sektor kimia nasional.

>>> OJK Tegaskan Penagihan Lewat Pihak Ketiga Wajib Patuhi POJK Pelindungan Konsumen

Mulai dari bahan kimia spesial, pupuk, kaca industri, kemasan fleksibel, keramik, hingga daur ulang plastik.

Partisipasi ini merupakan strategi pemerintah untuk memperluas pasar ekspor, menarik investasi, serta membangun kemitraan industri berkelanjutan dengan Rusia dan negara-negara anggota Eurasian Economic Union (EAEU).

Potensi Besar Sektor Kimia Nasional

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, industri kimia dan farmasi merupakan sektor strategis yang terus diperkuat.

Sektor ini berperan penting dalam meningkatkan nilai tambah sumber daya alam dan mendukung kemandirian industri nasional.

"Indonesia memiliki potensi besar di sektor kimia dan farmasi yang didukung ketersediaan bahan baku, kapasitas produksi yang terus berkembang, serta pasar domestik yang kuat.

Melalui INNOPROM 2026, kami ingin memperluas jejaring kemitraan global, menarik investasi, dan membuka peluang kolaborasi industri yang memberikan manfaat jangka panjang bagi kedua negara," ujar Agus, Rabu (9/7/2026).

Kinerja sektor Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) menunjukkan tren positif.

Pada triwulan I 2026, sektor ini tumbuh 4,96 persen, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 3,34 persen.

>>> Siapa Istri dan Anak Rachmat Gobel? Anggota DPR RI dari Fraksi Partai NasDem yang Meninggal Dunia, Bukan Orang Sembarangan?

Kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai 3,88 persen. Subsektor industri barang galian bukan logam mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 9,12 persen.