Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali meluncurkan usaha baru yang kontroversial.

Kali ini, ia membuka puluhan stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) dengan merek Freedom Fuel Network di Pennsylvania dan New Jersey.

>>> Item Paling Langka di Clair Obscur: Expedition 33, Termasuk Senjata Baguette yang Hanya 6% Pemain Temukan

SPBU tersebut menjual bensin tanpa timbal dengan harga tetap $3,47 per galon. Angka itu sekitar 32 sen lebih murah dari rata-rata harga bensin nasional AS saat ini.

Namun, para ahli energi langsung angkat bicara.

Patrick De Haan, kepala analis minyak di GasBuddy, mengatakan kepada Philadelphia Inquirer bahwa harga tersebut tidak mungkin menghasilkan keuntungan.

"Stasiun yang menjual dengan harga ini tidak berkelanjutan," ujar De Haan. "Biasanya, ketika kerugian terjadi, seseorang harus membayarnya."

Pertanyaan besarnya adalah: siapa yang menanggung kerugian itu? Apakah Trump sendiri, donor, atau bahkan wajib pajak?

>>> Persona 4 Revival Ubah Adegan Kontroversial Yosuke agar Lebih Sesuai Zaman

Hingga kini belum ada jawaban jelas.

Freedom Fuel pertama kali diumumkan melalui akun media sosial Gedung Putih. Namun, juru bicara pemerintah menegaskan bahwa perusahaan itu adalah entitas swasta, bukan program federal.

Dalam unggahan di Truth Social pada 1 Juli, Trump memuji seorang "pengecer yang sangat pintar" karena menurunkan harga di 25 SPBU Freedom Fuel di area Philadelphia.

"Mereka melakukan ini karena mereka mencintai AS," tulis Trump.

Aksi ini mulai mengganggu pasar lokal. Sebuah Sam's Club di Dresher, Pennsylvania, bahkan menurunkan harga bensinnya menjadi $3,47 untuk menyaingi Freedom Fuel.

>>> Perempat Final Piala Dunia 2026: Empat Juara Dunia Hadapi Kuda Hitam

Meski menguntungkan konsumen dalam jangka pendek, para pengamat memperingatkan bahwa praktik ini bisa memicu distorsi pasar dan kerugian besar di kemudian hari.