Hingga 80 persen kasus stroke sebenarnya dapat dicegah. Para dokter mengidentifikasi sejumlah kebiasaan sehari-hari yang menjadi faktor risiko utama.

Stroke terjadi ketika aliran darah ke otak terhambat atau pecahnya pembuluh darah. Kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan neurologis permanen jika tidak segera ditangani.

>>> Rutinitas Pagi yang Didukung Sains untuk Energi dan Suasana Hati Lebih Baik

Tujuh Kebiasaan yang Meningkatkan Risiko Stroke

Duduk terlalu lama menjadi salah satu faktor risiko terbesar. Gaya hidup sedentari dapat menyebabkan penumpukan plak di arteri.

Dr. Arthur Wang, direktur bedah saraf endovaskular di Tulane University School of Medicine, menyarankan olahraga ringan selama 30 menit lima kali seminggu.

Jalan kaki, bersepeda, dan berkebun termasuk aktivitas yang dianjurkan.

Hipertensi atau tekanan darah tinggi juga menjadi ancaman serius. Penelitian menunjukkan penurunan tekanan sistolik 10 mmHg dapat mengurangi risiko stroke hingga 30 persen.

Pemeriksaan rutin sangat penting karena hipertensi sering tanpa gejala. Deteksi dini melalui skrining berkala membantu mencegah kerusakan pembuluh darah.

Kebiasaan merokok mempercepat penyempitan pembuluh darah. "Merokok menyebabkan pembuluh darah menyempit seiring waktu, yang akhirnya menghambat aliran darah ke otak," jelas Wang.

>>> WhatsApp Luncurkan Meta Business Agent di India untuk Layanan Pelanggan 24/7

Konsumsi alkohol berlebihan juga meningkatkan risiko stroke. Pedoman diet AS merekomendasikan maksimal satu gelas per hari untuk wanita dan dua gelas untuk pria.

Pola makan tidak seimbang dengan tinggi lemak jenuh, gula, dan garam mempercepat kerusakan arteri. Memperbanyak makanan utuh, buah, dan sayuran lebih baik daripada daging merah dan makanan olahan.

Ketidakpatuhan minum obat juga menjadi masalah. Pasien sering melewatkan dosis karena merasa sehat, padahal obat pencegahan seperti statin atau antihipertensi memerlukan konsistensi.

Mengenali Tanda Peringatan Stroke

Stroke iskemik akibat sumbatan darah terjadi pada sekitar 80 persen kasus. Sisanya adalah stroke hemoragik akibat pecahnya pembuluh darah.

Setiap menit keterlambatan penanganan menyebabkan hilangnya sekitar 2 juta neuron. Profesor Sonia Alamowitch dari French Neurovascular Society menekankan pentingnya tindakan cepat.

Gejala stroke meliputi kelemahan mendadak pada satu sisi tubuh, kesulitan bicara, gangguan penglihatan, dan sakit kepala hebat yang tiba-tiba.

>>> Beats Luncurkan Kabel Woven Power Pink dengan Dukungan Pengisian Daya hingga 240W di India

Gunakan akronim FAST untuk mengenali gejala: Face (wajah turun), Arm (lengan lemah), Speech (bicara pelo), dan Time (segera hubungi layanan darurat).