Penyakit autoimun menjadi masalah kesehatan yang terus meningkat di dunia. Di Indonesia dan Asia Tenggara, perempuan menjadi kelompok paling rentan.

Pakar Genetika Ekologi IPB University, Prof. Ronny Rachman Noor, mengutip data The Lancet menyebut sekitar 80% penderita autoimun adalah wanita.

>>> Akan Temui Manajemen TikTok, Said Iqbal Siap Protes PHK Massal Tokopedia

Kondisi ini dipengaruhi kombinasi faktor genetik, hormon, dan sistem kekebalan tubuh.

"Perempuan memiliki kecenderungan lebih terhadap gangguan autoimun karena faktor genetik, hormon estrogen dan progesteron, serta faktor imunologis," ujar Prof. Ronny dalam keterangan resmi, Selasa (7/7/2026).

Ia menjelaskan sistem imun yang kuat penting untuk melindungi kehamilan, tetapi juga dapat membuat tubuh lebih rentan menyerang jaringan sendiri.

Prevalensi dan Gejala Autoimun

Secara global, sekitar 10% populasi dunia mengalami penyakit autoimun. Data The Lancet menunjukkan prevalensi lupus, rheumatoid arthritis, dan diabetes tipe 1 terus meningkat.

Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, jumlah penderitanya diperkirakan mencapai 3-5% populasi dan diprediksi bertambah seiring urbanisasi serta perubahan lingkungan.

Gejala autoimun sering tidak spesifik sehingga kerap terlambat dikenali.

Tanda yang perlu diwaspadai antara lain mudah lelah, nyeri sendi atau otot, ruam kulit, demam ringan berulang, gangguan pencernaan, dan penurunan berat badan tanpa sebab jelas.

Terdapat lebih dari 100 jenis penyakit autoimun.

>>> 7 Langkah Mencukur Bulu Ketiak yang Benar, Hasil Mulus Tanpa Iritasi

Beberapa yang paling dikenal meliputi rheumatoid arthritis, lupus, psoriasis, vitiligo, diabetes tipe 1, penyakit Hashimoto, dan multiple sclerosis.

Prof. Ronny menegaskan autoimun bukan diwariskan langsung kepada anak. Namun, seseorang dapat mewarisi predisposisi genetik yang meningkatkan risiko jika dipicu faktor lingkungan.