Saat hamil, banyak orang tiba-tiba merasa berhak bertanya tentang rencana persalinan Anda.

Sharon Gaffka, seorang aktivis politik dan mantan bintang reality TV, sering ditanya mengapa ia memilih operasi caesar.

>>> NVIDIA dan SK Hynix Jalin Kemitraan Multi-Tahun untuk Memori AI Factories

Jawabannya sederhana: karena ia menginginkannya. Namun, keputusan itu tidak muncul begitu saja.

Ia mendasarkannya pada pengalaman dan data tentang layanan maternitas di Inggris.

Trauma Kelahiran dan Kurangnya Kontrol

Melalui pekerjaannya, Gaffka mendengar banyak kisah kelahiran yang traumatis. Pada Februari lalu, ia menghadiri acara di parlemen tentang trauma kelahiran.

Seorang wanita menceritakan cedera akibat forsep yang menyebabkan kerusakan fisik seumur hidup.

Wanita lain berulang kali memberi tahu tenaga kesehatan bahwa ada yang tidak beres, namun tidak diindahkan, hingga janinnya meninggal.

Yang mencolok adalah kesamaan cerita: para wanita merasa tidak didengarkan. Laporan Donna Ockenden tentang layanan maternitas di Nottingham University Hospitals NHS Trust mengonfirmasi pola ini.

Laporan tersebut menemukan banyak wanita kehilangan otonomi, komunikasi buruk, dan dikecualikan dari keputusan perawatan mereka sendiri.

Statistik yang Personal

Sebagai wanita keturunan Asia-Inggris, Gaffka sadar bahwa wanita kulit hitam dan Asia mengalami hasil kehamilan yang lebih buruk.

>>> Apa Pekerjaan Sean Ivan De Beule? Adik Irish Bella yang Telah Resmi Menikah dengan Nadya Shafa

Membaca statistik itu saat hamil terasa sangat personal.

Trust tempat ia berobat juga termasuk dalam investigasi maternitas nasional. Meskipun perawatannya sebagian besar positif, hal itu membuatnya bertanya-tanya bagaimana meningkatkan peluang melahirkan dengan baik.

Kehamilan membuatnya kehilangan banyak kendali. Ia tidak bisa mengontrol perubahan tubuh, ketidaknyamanan, atau bagaimana persalinan akan berlangsung.