Cokelat tetap merupakan makanan tinggi kalori. Apabila dikonsumsi tanpa memperhatikan total asupan kalori harian, kebiasaan ini bisa menyebabkan berat badan bertambah.

Kandungan gula yang tinggi pada milk chocolate dan white chocolate juga dapat memicu rasa lapar lebih cepat sehingga seseorang cenderung makan lebih banyak.

Pada sebagian orang, terutama yang memiliki intoleransi laktosa atau sindrom iritasi usus (IBS), milk chocolate dapat memicu kembung, diare, sakit perut, atau produksi gas berlebih.

Kandungan kafein dalam cokelat juga bisa mempercepat gerakan usus sehingga memicu buang air besar lebih sering pada orang yang sensitif.

Cokelat juga mengandung oksalat yang dapat meningkatkan risiko pembentukan batu ginjal pada orang yang memang rentan mengalami kondisi tersebut.

Selain itu, pada sebagian orang, kandungan kafein dan senyawa beta-phenylethylamine dalam cokelat diduga dapat memicu migrain. Namun, hubungan ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Milk chocolate dan white chocolate yang tinggi gula serta mengandung susu sapi berpotensi memperburuk jerawat pada sebagian orang.

Makanan tinggi gula diketahui dapat meningkatkan produksi sebum dan memicu peradangan pada kulit sehingga jerawat lebih mudah muncul.

Jadi, bolehkah makan cokelat setiap hari? Boleh, selama porsinya tidak berlebihan dan Anda memilih jenis cokelat yang tepat.

Dark chocolate dengan kandungan kakao minimal 70 persen merupakan pilihan yang lebih sehat karena mengandung lebih banyak flavonoid dan umumnya lebih rendah gula dibandingkan milk chocolate maupun white chocolate.

>>> Liverpool dan Arsenal Bersaing Rekrut Bintang PSG Bradley Barcola

Sebaliknya, jika tujuan Anda menjaga kesehatan, sebaiknya batasi konsumsi cokelat yang tinggi gula dan lemak jenuh. Ingat, cokelat tetap merupakan camilan, bukan pengganti makanan bergizi seimbang.