Pemerintah melalui Kementerian Keuangan akan kembali menempatkan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) di bank-bank BUMN sebesar Rp381 triliun hingga akhir tahun 2026.

Kebijakan ini disambut baik oleh Himpunan Bank Negara (Himbara) karena dinilai dapat memperkuat likuiditas perbankan dan memperluas ruang penyaluran kredit.

>>> Pencairan JHT Tuai Sorotan, DJP Ungkap 1,6 Juta Klaim Bebas Pajak

Rincian dana tersebut terdiri dari Rp281 triliun yang langsung diberikan ke perbankan dan Rp100 triliun sebagai dana cadangan yang disimpan di Bank Indonesia (BI).

Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengatakan kebijakan ini untuk memastikan likuiditas perbankan terjaga dan sanggup menyalurkan kredit.

"Setelah dievaluasi, diambil kesimpulan bahwa dana pemerintah di perbankan akan dikembalikan lagi yang kemarin Rp281 triliun akan dikembalikan lagi Rp281 triliun dan diperpanjang hingga akhir 2026, Desember 2026," ujar Juda dalam konferensi pers di DPR RI, Senin (29/6).

"Di samping itu ada tambahan 100 triliun sebagai standby in case diperlukan dan memang perbankan masih memerlukan likuiditas untuk menyalurkan kredit," imbuhnya.

Respons Para Petinggi Bank BUMN

Direktur Utama Bank Mandiri Riduan menyampaikan penempatan dana SAL menunjukkan sinergi yang baik antara pemerintah dan perbankan.

"Kami berterima kasih atas kepercayaan Kementerian Keuangan yang menempatkan dana SAL di Bank Mandiri," ujar Riduan dalam keterangan tertulis, Sabtu (27/6).

Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini menilai kehadiran dana SAL memberikan dampak positif pada struktur pendanaan, termasuk efisiensi biaya dana.

Adapun fokus Bank Mandiri ke depan tetap pada pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang solid dan penyaluran kredit yang difokuskan pada segmen UMKM.

Direktur Utama BRI Hery Gunardi juga mengapresiasi penempatan dana SAL sebagai langkah strategis menjaga likuiditas perbankan.