PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) memanfaatkan energi panas bumi di Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Kamojang, Kabupaten Bandung, untuk mendukung proses pengolahan kopi.

Inovasi tersebut menggunakan teknologi Geothermal Dry House yang memanfaatkan panas dari steam trap panas bumi sebagai sumber energi alternatif untuk mengeringkan biji kopi.

>>> Wamenaker: PKB Bukti Hubungan Industrial Sehat di PT KAI

Teknologi ini menggantikan metode konvensional yang bergantung pada sinar matahari dan diklaim mampu memangkas waktu pengeringan dari sekitar 30–45 hari menjadi hanya 3–10 hari.

Selain mempercepat proses produksi, metode ini menghasilkan tingkat kematangan biji kopi yang lebih seragam dan lebih higienis, sehingga berpotensi meningkatkan kualitas serta nilai jual produk.

Corporate Secretary PGE Muhammad Taufik mengatakan pemanfaatan langsung energi panas bumi menjadi salah satu upaya memperluas manfaat geotermal bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi.

"Melalui inovasi seperti Geothermal Dry House, kami ingin memperlihatkan bahwa panas bumi tidak hanya menghasilkan listrik, tetapi juga dapat dimanfaatkan secara langsung untuk meningkatkan kualitas produk lokal dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat," ujarnya.

Saat ini PGE bermitra dengan tiga kelompok tani, yakni Ecovill, Akkar, dan Penyoeka Kopi, yang melibatkan sekitar 320 keluarga petani di kawasan Kamojang.

Perusahaan menyebut kopi yang dihasilkan telah dipasarkan hingga mancanegara, termasuk ke sejumlah negara di Asia dan Eropa, dengan volume ekspor mencapai sekitar 20 ton.

Pemberdayaan Masyarakat Melalui Panas Bumi

Selain mendukung pengolahan kopi, PGE juga menjalankan program pemberdayaan masyarakat melalui KANYAAH (Kamojang Agri-Aquaculture Energized by Geothermal).

>>> HUT Ke-70, Danamon Tebar Promo Cashback hingga Diskon Selama Juli

Program tersebut mencakup pemanfaatan panas bumi untuk budidaya perikanan, pertanian, pengolahan pascapanen, hingga produksi pupuk organik.