Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronica Tan menekankan pentingnya meruntuhkan ego sektoral antar-kementerian dalam mendorong pemberdayaan perempuan dan menyukseskan ekonomi restoratif di Indonesia.

Veronica mengatakan, kerja yang bersifat parsial tidak akan bisa mencapai target krusial tersebut.

in1

>>> Vinicius Junior Cetak Dua Gol dan Tantang Messi di Piala Dunia 2026

"Selama kita kerja terpisah-pisah dan parsial, maka tujuan memberdayakan perempuan ini tidak akan pernah tercapai," kata Veronica pada hari pertama Kunstkring Dialogue: Forum Ekonomi Restoratif di Tugu Kunstkring Paleis, Rabu (24/6).

Ia menambahkan bahwa wewenang serta kemampuan yang dimiliki Kementerian PPPA sangat terbatas.

Oleh sebab itu, integrasi kebijakan dengan kementerian lain menjadi mutlak diperlukan guna memperkuat posisi perempuan sebagai aktor utama penggerak ekonomi.

Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Yandri Susanto juga menyatakan bahwa penguatan ekonomi restoratif harus dimulai dari akar rumput, yakni dengan memperkuat seluruh rantai ekonomi desa.

Melalui program SEHATI, pemerintah berupaya mendorong swasembada pangan sekaligus ketahanan iklim tanpa merusak identitas budaya lokal.

Langkah ini dinilai strategis karena menempatkan perempuan bukan lagi sekadar sebagai penerima manfaat pembangunan.

Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa, menambahkan bahwa perempuan di wilayah pedesaan merupakan jantung dari pariwisata restoratif sekaligus pusat pelestarian lingkungan.

"Perempuan adalah jantung pariwisata restoratif.

>>> Sinopsis Avatar: The Last Airbender Season 2: Aang ke Ba Sing Se

Bagaimana perempuan di desa menjadi pusat pelestarian lingkungan dan penggerak ekonomi keluarga menjadi kekuatan nyata dari ekonomi restoratif," ujarnya.

Dialog Kebijakan dan Pameran Wastra

Kunstkring Dialogue digagas Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) bersama Penabulu-Oxfam.