Perusahaan bus di Jepang mulai merekrut pekerja asing, termasuk dari Indonesia, untuk menjadi sopir bus. Langkah ini diambil di tengah merosotnya jumlah pengemudi lokal.

Para pendatang akan menjalani pelatihan komprehensif hingga memenuhi syarat sebagai sopir bus yang komunikatif dan lancar berinteraksi dengan penumpang.

in1

>>> Nusuk Travel Luncurkan Inisiatif Musim dan Akomodasi Strategis

Salah satu pekerja asing yang menjadi pengemudi di Jepang adalah Mahatmi Rismartanti (27). Dia menceritakan perjuangannya menjadi sopir bus di Negeri Sakura.

"Saya ingin memastikan saya membawa penumpang dengan aman ke tujuan mereka," kata Mahatmi, dikutip NHK pekan lalu.

Mahatmi pindah ke Jepang pada September tahun lalu. Ia butuh enam bulan untuk bisa menyusuri jalan-jalan Jepang menjadi pengemudi yang handal dan komunikatif.

Perempuan berusia 27 tahun itu dan dua warga Indonesia lainnya direkrut perusahaan Tokyu Bus.

Mereka mendapat visa pekerja terampil khusus Jepang, kategori visa yang memang dibuat untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja.

Di Tokyu Bus, mayoritas pengemudi berusia 50 hingga 60 tahun, usia yang mendekati pensiun. Karena alasan itu, perusahaan merekrut warga asing untuk mengisi kekosongan.

>>> IHSG Ditutup Menguat 1,96 Persen ke Level 5.999 pada Kamis Sore

"Kita menghadapi kekurangan tenaga kerja yang akan semakin parah di masa depan. Kita tidak punya pilihan selain terus maju," kata direktur eksekutif Tokyu Bus, Okano Kyoko.

Operator bus di seluruh Jepang menyatakan kehabisan waktu untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja yang semakin memburuk.

Kelompok industri memperkirakan kekurangan sekitar 30.000 pengemudi bus dalam beberapa tahun mendatang.

Bus merupakan bagian penting jaringan transportasi Jepang, terutama di daerah-daerah regional. Warga hingga wisatawan bergantung pada layanan ini.

Di luar itu, Jepang juga tengah menghadapi penyusutan populasi usia produktif dan peningkatan jumlah penduduk di kelompok usia lanjut.

>>> Medan Magnet Rel Kereta Tak Mampu Ganggu Sistem Mobil Listrik

Dalam beberapa tahun terakhir, Negeri Sakura membuka lowongan pekerjaan besar-besaran bagi warga asing.