Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai berdampak pada industri asuransi di Indonesia. Perusahaan asuransi mulai menghitung ulang premi, terutama saat perpanjangan polis.

Pelaksana Tugas Direktur Utama PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia, Marihot H. Tambunan, mengatakan dampak tersebut muncul karena sebagian besar alat kesehatan, produk farmasi, dan bahan baku obat masih bergantung pada impor.

in1

>>> Ekspor Kerajinan RI Tembus Rp2,97 Triliun di Kuartal I 2026, Tumbuh 4,08 Persen

Transaksi impor tersebut menggunakan dolar AS.

"Kalau ditanya berdampak, pasti berdampak.

Tanpa mengurangi penghargaan kita kepada kemampuan industri kesehatan dan farmasi nasional, masih sangat banyak atau bahkan dominan alat kesehatan maupun farmasi, termasuk biarpun produksi dalam negeri, tetapi bahan bakunya impor.

Itu menggunakan kuotasi dolar," ujarnya dalam webinar OJK Institute, Kamis (25/6/2026).

Menurut Marihot, perubahan nilai tukar dapat memengaruhi struktur biaya perusahaan asuransi. Hal ini menjadi salah satu pertimbangan dalam penetapan premi saat polis memasuki masa renewal.

Tekanan biaya tidak hanya berasal dari obat-obatan dan alat kesehatan, tetapi juga dari produk asuransi yang memberikan manfaat perawatan di luar negeri.

>>> Kemlu: Banyak Investor Baru Masuk, Hengkangnya Dua Perusahaan Tak Cerminkan Iklim Investasi

Tagihan rumah sakit di luar negeri umumnya menggunakan dolar AS sehingga perusahaan perlu mengevaluasi struktur premi secara berkala.

"Jadi kalau mereka berobat ke luar negeri tagih dalam dolar, tentu berdampak juga kepada kita.

Ini juga kita review, jadi kita adjust nanti kalau tetap pakai itu, preminya," katanya.

Marihot menambahkan, tekanan kurs juga berdampak pada biaya operasional perusahaan melalui penggunaan teknologi informasi, kecerdasan buatan, dan proses digitalisasi yang masih bergantung pada lisensi dari luar negeri.

"Saya pernah hitung perpanjangan kita karena kenaikan rate atau kurs dolar saja untuk semua layanan teknologi informasi yang kita pakai itu, hanya karena kenaikan kurs itu 8% sampai 9%.

>>> Bolehkah Ibu Menyusui Minum Kopi? Ini Batas Aman Kafein

Jadi dari situ saja sudah berpengaruh," ujarnya.