Garam adalah bumbu dapur yang hampir selalu ada dalam setiap masakan. Kini pilihannya semakin beragam, mulai dari garam beriodium, garam laut, hingga garam Himalaya.

Masing-masing jenis garam kerap diklaim memiliki manfaat kesehatan tersendiri. Namun, benarkah ada garam yang lebih sehat dari yang lain?

in1

>>> Kesaksian Tim SAR Gempa Venezuela: Dengar Teriakan di Bawah Reruntuhan

Pada dasarnya, hampir semua garam tersusun atas natrium klorida. Natrium dibutuhkan tubuh untuk menjaga keseimbangan cairan, fungsi saraf, dan kerja otot.

Meski penting, konsumsi natrium berlebihan dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan stroke. WHO merekomendasikan orang dewasa membatasi konsumsi garam kurang dari 5 gram per hari.

Garam Beriodium

Garam beriodium masih menjadi pilihan paling direkomendasikan bagi sebagian besar orang. Iodium penting untuk produksi hormon tiroid.

Kekurangan iodium dapat menyebabkan gangguan tiroid hingga hambatan pertumbuhan otak pada anak. WHO mendorong fortifikasi iodium pada garam sebagai strategi kesehatan masyarakat yang efektif.

Garam Laut, Himalaya, Kosher, dan Rendah Natrium

Garam laut diperoleh dari penguapan air laut dan dianggap lebih alami. Namun, kandungan natriumnya serupa dengan garam meja jika dibandingkan berdasarkan berat.

>>> Tan Cheng Hoe Resmi Ditunjuk sebagai Pelatih Sementara Malaysia

Garam Himalaya mengandung mineral tambahan yang memberi warna merah muda, tetapi jumlahnya sangat kecil. Tidak cukup signifikan untuk memberikan manfaat kesehatan berarti.

Garam kosher memiliki kristal lebih besar dan sering digunakan koki karena mudah ditaburkan. Belum ada bukti ilmiah bahwa garam ini lebih sehat.

Garam rendah natrium menggantikan sebagian natrium dengan kalium.

WHO menyebutnya dapat membantu menurunkan asupan natrium, tetapi tidak cocok untuk penderita penyakit ginjal atau yang mengonsumsi obat tertentu.

>>> Rizky Sespri Prabowo Temui Jokowi, Minta Jadi Saksi Nikah

Kesimpulannya, garam beriodium yang digunakan secukupnya menjadi pilihan paling masuk akal. Kesehatan tidak ditentukan oleh jenis garam, melainkan kebiasaan mengonsumsinya.