Kedengarannya terlalu murah untuk menjadi kenyataan: sesendok cuka sebelum makan untuk menjaga gula darah tetap stabil. Namun, trik ini bukan sekadar pengobatan tradisional.

Trik ini telah diuji dalam uji klinis selama lebih dari dua dekade, dan hasilnya nyata, meskipun lebih sederhana dari yang diyakini banyak orang di internet.

in1

>>> Tiga Pengganti Makanan Kecil yang Bisa Menghemat Uang dan Meningkatkan Kesehatan

Apa yang Ditunjukkan Sains

Temuan inti konsisten di berbagai studi: mengonsumsi cuka bersama makanan kaya karbohidrat dapat mengurangi lonjakan gula darah yang biasanya terjadi setelah makan.

Sekitar satu hingga dua sendok makan (10-20 mL) yang dikonsumsi bersama makanan dapat memotong lonjakan gula darah setelah makan sekitar 20%, dan bahkan lebih besar jika makanan mengandung banyak pati seperti kentang.

Sebuah meta-analisis uji klinis mengonfirmasi bahwa cuka secara signifikan menurunkan gula darah dan insulin setelah makan. Efeknya paling baik jika dikombinasikan dengan karbohidrat kompleks berpati, bukan gula murni.

Jika digunakan setiap hari selama beberapa minggu, sekitar dua sendok makan menghasilkan penurunan kecil pada gula darah puasa pada penderita diabetes tipe 2, sebuah efek yang bahkan diakui oleh American Heart Association.

Cuka cair yang bekerja efektif; pil dan gummy cuka jauh kurang dapat diandalkan.

Mengapa Asam Membantu

Bahan aktifnya adalah asam asetat, yang merupakan komponen utama cuka (apel, putih, atau lainnya). Asam ini bekerja di beberapa sisi sekaligus.

Asam asetat memperlambat pengosongan lambung, mengganggu enzim yang memecah pati menjadi gula, dan membantu otot menyerap glukosa lebih efisien dengan meningkatkan sensitivitas insulin.

Keseimbangan pasti dari mekanisme ini masih diperdebatkan, tetapi efek bersihnya adalah kenaikan gula darah yang lebih landai setelah makan.