Negara-negara ASEAN mulai menyusun strategi memperkuat produksi vaksin dan ketahanan kesehatan kawasan untuk menghadapi potensi pandemi berikutnya.

Langkah ini dilakukan agar negara-negara di kawasan tidak lagi mengalami kesulitan memperoleh vaksin, obat-obatan, maupun produk kesehatan penting seperti yang terjadi saat pandemi Covid-19.

in1

>>> Amazon India Perluas Layanan Cepat 'Amazon Now' ke 300 Kota

Pembahasan tersebut mengemuka dalam forum Building Regional and Global Health Resilience in ASEAN: Vaccine Manufacturing and Pandemic Preparedness and Response (PPR) yang digelar Dewan Ekonomi Nasional (DEN) di Jakarta, Rabu (24/6/2026).

Forum ini mempertemukan pemerintah, regulator, pelaku industri, akademisi, hingga organisasi internasional untuk membahas penguatan manufaktur vaksin, kesiapsiagaan pandemi, serta ketahanan rantai pasok kesehatan di kawasan ASEAN.

Pentingnya Kerja Sama Antarnegara

Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, pengalaman pandemi Covid-19 enam tahun lalu menunjukkan pentingnya kerja sama antarnegara dalam menghadapi krisis kesehatan global.

"Pengalaman dari COVID-19 enam tahun yang lalu, tanpa ada kerja sama tidak akan bisa kita selesaikan dengan baik," kata Luhut.

Luhut menekankan, penguatan sektor kesehatan kini menjadi salah satu prioritas pemerintah Presiden Prabowo Subianto.

Selain meningkatkan kualitas hidup masyarakat, investasi di sektor kesehatan juga diyakini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Luhut menilai program peningkatan layanan kesehatan hingga pemanfaatan teknologi pemerintahan berbasis kecerdasan buatan (AI) akan membuat birokrasi lebih efisien, transparan, dan mendukung target pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Kita semua sepakat bahwa kita akan bisa tumbuh 7-8% di 2028," ujarnya.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, negara-negara berpenduduk besar di ASEAN perlu memiliki kemampuan memproduksi obat, alat diagnostik, dan vaksin sendiri.

Ia bilang, saat pandemi terjadi, akses terhadap produk kesehatan dari negara lain bisa terhambat akibat kebijakan lockdown maupun pembatasan ekspor.