Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke posisi Rp17.943 per dolar AS pada perdagangan Kamis (25/6) sore.

Mata uang Garuda melemah 9 poin atau 0,05 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

in1

>>> Rekayasa Lalin dan Kantong Parkir HUT DKI di Bundaran HI

Mayoritas mata uang Asia justru menguat terhadap dolar AS.

Ringgit Malaysia memimpin penguatan dengan naik 0,52 persen, diikuti peso Filipina 0,36 persen, won Korea Selatan 0,20 persen, yuan China 0,14 persen, dan dolar Singapura 0,08 persen.

Sementara itu, yen Jepang melemah 0,02 persen dan dolar Hong Kong stabil.

Di kelompok mata uang negara maju, mayoritas juga menguat terhadap dolar AS.

Franc Swiss naik 0,18 persen, poundsterling Inggris menguat 0,14 persen, dolar Kanada bertambah 0,04 persen, euro Eropa naik 0,02 persen, dan dolar Australia menguat tipis 0,01 persen.

Faktor Pendorong Pelemahan Rupiah

Analis mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan indeks dolar AS terjadi seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.

Arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz kembali pulih pasca-kesepakatan penghentian konflik antara Iran dan Israel.

Menteri Energi AS Chris Wright menyebut sedikitnya 20 juta barel minyak telah melewati Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir.

>>> Krisis Tenaga Kerja, Jepang Rekrut WN Asing Termasuk WNI Jadi Sopir Bus

Kondisi itu turut menekan harga minyak dunia dan mengurangi premi risiko geopolitik di pasar.

"Kesepakatan tersebut menetapkan periode negosiasi selama 60 hari untuk menangani isu-isu yang lebih sulit, termasuk program nuklir Iran.

Minyak diperkirakan tetap mengalir melalui Selat Hormuz meski kesepakatan tersebut nantinya tidak berlanjut," ujar Ibrahim.

Dari dalam negeri, Ibrahim menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat di tengah ketidakpastian global.