Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Rabu, 24 Juni 2026.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 99 poin atau 0,55 persen ke level Rp17.952 per dolar AS.

in1

>>> Ekspor Daihatsu Naik 30 Persen, Produksi Tembus 169 Ribu Unit hingga Mei 2026

Posisi ini nyaris menyentuh level psikologis Rp18.000 yang sempat dihindari pasar.

Penyebab Pelemahan Rupiah

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah dipicu meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS, The Fed.

Indeks dolar AS tercatat berada di level tertinggi dalam 14 bulan, membuat dolar semakin superior terhadap mata uang lainnya.

Selain itu, sentimen pasar saham yang ambrol setelah MSCI mempertahankan status Emerging Market Indonesia turut membebani rupiah.

Lukman menambahkan, status tersebut akan ditinjau ulang pada November dan berpotensi diturunkan ke frontier market, yang bisa semakin menekan rupiah.

>>> Prabowo Akui Tahu Pembiaya Demo, Netizen Tanya 'Wapres Pak?'

Perbandingan dengan Mata Uang Asia Lainnya

Pelemahan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang Asia. Won Korea Selatan menjadi yang terlemah dengan koreksi 0,69 persen.

Baht Thailand melemah 0,49 persen, dolar Taiwan turun 0,41 persen, dan peso Filipina terkoreksi 0,3 persen.

Yuan China terdepresiasi 0,19 persen, yen Jepang turun 0,1 persen, dan dolar Singapura melemah tipis 0,06 persen.

Di sisi lain, ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia, melesat 0,13 persen.

>>> Aktivitas Gunung Anak Krakatau Meningkat, Warga dan Nelayan Diminta Tingkatkan Kewaspadaan

Rupee India naik 0,03 persen, dan dolar Hong Kong menguat 0,01 persen.