Perkembangan kecerdasan buatan (AI) di China menunjukkan pertumbuhan yang sangat pesat. Perdana Menteri China Li Qiang menyebut industri AI nasional mengalami pertumbuhan eksplosif.

Dalam pidatonya di Forum Davos Musim Panas di Dalian, Li mengungkapkan bahwa model bahasa besar (LLM) buatan China mencatatkan peningkatan performa tajam.

in1

>>> DPR Desak Polri Bongkar Aktor di Balik Uang Demo Rp20 Juta ke Mahasiswa

Hingga akhir Mei 2026, konsumsi token harian LLM China telah melampaui 100 triliun.

Konsumsi token LLM mengacu pada jumlah token yang digunakan untuk setiap perintah di platform AI. Misalnya, kata "memperjuangkan" dalam bahasa Indonesia bisa terdiri dari empat token.

Selain LLM, Li juga menyoroti kemajuan AI berwujud (embodied AI) yang mulai bergerak menuju penerapan komersial skala besar.

Hal ini menandakan semakin luasnya pemanfaatan AI dalam aktivitas ekonomi dan industri.

>>> Komunitas Otomotif Kini Padukan Hobi Mobil dengan Olahraga Padel

Li menegaskan bahwa inovasi menjadi faktor utama yang mendukung ketahanan ekonomi China jangka panjang. Kemajuan teknologi dan inovasi industri yang dicapai merupakan hasil penguatan kemampuan nasional selama bertahun-tahun.

Ia juga memperkenalkan konsep "China Opportunity 2.0" yang menawarkan peluang baru bagi perusahaan global.

Konsep ini mencerminkan pemberdayaan berbasis inovasi dan prospek investasi dengan potensi imbal hasil tinggi.

Pernyataan itu disampaikan di tengah kekhawatiran terhadap pesatnya perkembangan teknologi China. Li menolak narasi "China Shock 2.0" yang menggambarkan kemajuan China sebagai guncangan bagi ekonomi global.

>>> Registrasi Kartu SIM Kini Pakai Verifikasi Wajah Mulai 1 Juli 2026, Ini Keunggulannya

Menurut Li, perkembangan teknologi China justru menghadirkan peluang lebih luas bagi dunia. Akses terhadap teknologi canggih dan manfaat pembangunan dapat dirasakan secara lebih merata.