Nilai tukar rupiah masih berisiko kembali menyentuh level Rp18 ribu per dolar AS dalam waktu dekat. Kombinasi sentimen eksternal dan domestik membayangi pasar keuangan.

Pada perdagangan Selasa (23/6), rupiah ditutup di posisi Rp17.859 per dolar AS. Angka ini melemah 16 poin dibandingkan penutupan sebelumnya.

in1

>>> Babak I: Magis Modric Redup, Panama Tahan Kroasia 0-0

Faktor Eksternal dan Domestik

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan pergerakan rupiah akan dipengaruhi perkembangan geopolitik global.

Keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait status pasar modal Indonesia juga menjadi perhatian.

Sentimen eksternal masih beragam. Dolar AS didukung prospek suku bunga tinggi The Fed, namun konflik Timur Tengah bisa mengubah arah sentimen.

"Dari sentimen eksternal masih cenderung beragam.

Walau dolar AS masih didukung oleh prospek suku bunga The Fed, perkembangan seputar geopolitik Timur Tengah masih bisa memberikan sentimen yang berubah-ubah," ujar Lukman.

>>> Kubu Whitney Houston Bantah Klaim Oprah soal Penyanyi Itu Sedang Mabuk

Dari dalam negeri, pelaku pasar menunggu pengumuman klasifikasi pasar ekuitas Indonesia oleh MSCI pekan ini. Jika status emerging market dipertahankan, rupiah berpeluang menguat.

Sebaliknya, jika diturunkan ke frontier, tekanan meningkat.

Pengamat pasar uang Ariston Tjendra menilai peluang rupiah kembali ke Rp18 ribu masih terbuka. Indeks dolar AS telah mencapai level tertinggi sejak Mei 2025.

"Masih ada kemungkinan pelemahan rupiah ke arah Rp18 ribu. Indeks dolar AS hari ini sudah menembus level tertinggi sejak 19 Mei 2025," kata Ariston.

Penguatan dolar AS dipicu meningkatnya ketegangan AS-Iran setelah Iran menolak inspeksi situs nuklirnya. Pasar juga mengantisipasi kenaikan suku bunga acuan AS.

>>> Taufik Hidayat Sering Cekcok Saat Mabuk, Berujung Penyiksaan Kekasih

Pergerakan rupiah dalam sisa pekan ini diperkirakan fluktuatif. Sentimen global dan hasil keputusan MSCI akan menjadi penentu arah.