Amerika Serikat dan Iran menggelar negosiasi teknis di Swiss akhir pekan lalu sebagai tindak lanjut Nota Kesepahaman (MoU) yang telah disepakati.

MoU tersebut mencakup penghentian pertempuran di seluruh front termasuk Lebanon, pembahasan masa depan nuklir Iran, dan waktu 60 hari untuk mencapai kesepakatan akhir.

in1

>>> Prabowo Terbang ke Gorontalo Hadiri Puncak PENAS Petani dan Nelayan

Keuntungan bagi Amerika Serikat

Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan bahwa AS berhasil mencapai empat target utama.

Pertama, membangun mekanisme untuk menjaga Selat Hormuz tetap terbuka dan membersihkan ranjau.

Kedua, membentuk unit koordinasi gencatan senjata regional termasuk Lebanon.

Ketiga, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) diizinkan masuk ke Iran.

Keempat, menetapkan pembicaraan terus berlanjut.

Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei membantah adanya izin inspeksi IAEA ke fasilitas nuklir Iran.

Keuntungan bagi Iran

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengumumkan pembentukan sejumlah kelompok kerja.

>>> Ulang Tahun Ke-39 Messi: Kado Terindah untuk Sepak Bola Dunia

Kelompok kerja itu meliputi Pencabutan Sanksi, Urusan Nuklir, Rekonstruksi dan Pembangunan Ekonomi, serta Pemantauan dan Implementasi.

Iran juga diizinkan mengekspor minyak mentah, produk petrokimia, dan produk minyak bumi olahan melalui lisensi umum.

Selain itu, AS akan mencairkan aset Iran yang dibekukan hingga S$12 miliar atau sekitar Rp214 triliun.

Ketua delegasi Iran Mohammed Bagher Ghalibaf mengatakan pencairan dilakukan dua kali masing-masing US$6 miliar.

Dana tersebut dapat digunakan Iran dengan kebebasan penuh tanpa batasan.

Ghalibaf juga menyebut negosiasi di Swiss berhasil mengurangi korban tewas di Lebanon akibat serangan Israel.

>>> Ramalan Zodiak 24 Juni: Leo Jangan Gegabah, Virgo Raih Kesempatan

Penghentian serangan Israel ke Lebanon merupakan tuntutan utama Iran sejak awal negosiasi.